Rabu, 05 Agustus 2009

KOLITIS ULSERATIF

ANATOMI DAN FISIOLOGI KOLON

Usus besar atau colon berbentuk saluran muscular beronga yang membentang dari secum hingga canalis ani dan dibagi menjadi sekum, colon (assendens, transversum, desendens, dan sigmoid), dan rectum. Katup ileosekal mengontrol masuknya kimus ke dalam kolon, sedangkan otot sfingter eksternus dan internus mengotrol keluarnya feses dari kanalis ani. Diameter kolon kurang lebih 6,3 cm dengan panjang kurang lebih 1,5 m.
Usus besar memiliki berbagai fungsi, yang terpenting adalah absorbsi air dan elektrolit. Ciri khas dari gerakan usus besar adalah pengadukan haustral. Gerakan meremas dan tidak progresif ini menyebabkan isi usus bergerak bolak balik, sehingga memberikan waktu untuk terjadinya absorbsi. Peristaltik mendorong feses ke rectum dan menyebabkan peregangan dinding rectum dan aktivasi refleks defekasi.
Banyaknya bakteri yang terdapat di dalam kolon berfungsi mencerna beberapa bahan dan membantu penyerapan zat-zat gizi. Bakteri di dalam kolon juga berfungsi membuat zat-zat penting, seperti vitamin K. Bakteri ini penting untuk fungsi normal dari usus. Beberapa penyakit serta antibiotik bisa menyebabkan gangguan pada bakteri-bakteri di dalam usus besar. Akibatnya terjadi iritasi yang bisa menyebabkan dikeluarkannya lendir dan air sehingga terjadilah diare.

Gerak dan sekresi Kolon
Pergerakan kolon terdiri dari kontraksi segmentasi dan gelombang peristaltik seperti yang terdapat pada usus halus. Kontraksi segmentasi mencampur isi kolon dan dengan lebih banyak menyentuhkan isi ke mukosa, mempermudah absorbsi. Gelombang peristaltik mendorong isi ke rektum, walaupun kadang-kadang terlihat antiperistaltik yang lemah. Kontraksi tipe ke tiga yang terdapat hanya pada kolon adalah mass action contraction, di mana terdpat kontraksi otot polos yang serentak meliputi daerah yang luas.. Kontraksi ini terjadi pada pars desenden dan sigmoid dan berperan untuk mengosongkan kolon dengan cepat. Kontraksi ini merupakan kekuatan kontraksi yang jelas waktu defekasi.
Pergerakan kolon dikoordinasi oleh gelombang lambat kolon. Frekuensi gelombang ini, tidak seperti gelombang pada usus halus, meningkat sepanjang kolon, dari kira-kira 2 x / menit pada katup ileocaecal sampai 6 x / menit pada signoid.
Sekresi kukus oleh kelenjar kolon dirangsang oleh kontak antara sel-sel kelenjar dan isi kolon. Tidak ada hubungan hormonal atau saraf berperan dalam respon dasar sekresi, walaupun beberapa sekresi tambahan dapat dihasilkan oleh respon reflek lokal melalui nervus pelvicuc dan splanknikus. Tidak ada enzem pencernaan disekresi dalam kolon.
Absorpsi dalam kolon
Kemampuan absorpsi mukos usus besar sangat besar. Na secara aktif ditransport keluar kolon, dan air mengikuti osmotik gradier yang ditimbulkan. Terdapat sekresi K , dan HCO kedalam kolon. Kapasitas absorpsi kolon membuat instalasi rektum merupakan suatu jalan yang praktis untuk pemberian obat, khususnya anak-anak. Banyak senyawaan, termasuk obat anestesi, sedatif, transquilizer, dan steroid, diabsorpsi dengan cepat oleh tempat ini. Sebagian air dalam enema diabsorpsi, dan bila volime enema besar, absorpsi dapat cukup cepat menyebabkan intoksikasi air. Koma dan kematian yang disebabkan karena intoksikasi air telah dilaporkan setelah enema dengan air kran pada anak-anak dengan megakolon



DEFINISI

Kolitis ulserattiva merupakan penyakit radang non spesifik kolon yang umumnya berlangsung lama disertai masa remisi dan eksaserbasi yang berganti-ganti. Sakit abdomen, diare dan perdarahan rektum merupakan tanda dan gejala yang penting. Lesi utamanya berupa reaksi peradangan daerah subepitel yang timbul pada basis kripttus Lieberkuhn, yang akhirnya dapat menimbulkan pertukakan pada mukosa. Frekuensi penyakit paling banyak antara usia 20 -40 tahun, dan menyerang ke dua jenis kelamin sama banyak. Insiden kolitis ulserativa adalah sekitar 1 per 10.000 orang dewasda kulit putih per tahun.

ETIOLOGI

Etiologi kolitis ulserativa tidak diketahui. Faktor genetik tampaknya berperan dalam etiologi, karena terdapat hubungan familial.
Juga terdapat bukti yang menduga bahwa autoimunnita berperan dalam patogenisis kolitis ulserativa. Antibodi antikolon telah ditemukan dalam serum penderita penyakit ini. Dalam biakan jaringan limfosit dari penderrita kolitis ulserativa merusak sel epitel pada kolon.
Selain itu ada juga beberapa fakor yang dicurigai menjadi penyebab terjadinya colitis ulseratif diantaranya adalah : hipersensitifitas terhadap factor lingkungan dan makanan, interaksi imun tubuh dan bakteri yang tidak berhasil (awal dari terbentuknya ulkus), pernah mengalami perbaikan pembuluh darah, dan stress.

PATOFISIOLOGIS

Lesi patologis awal adalah terbatas pada lapisan mokusa dan terdiri atas pembentukan abses dalam kriptus. Pada permulaan penyakit, terjadi udema dan kongesti mukosa. Udema dapat mengakibatkan kerapuhan yang hebat sehingga terjadi perdarahan dari trauma yang ringan, seperti gesekan ringan pada permukaan.
Pada stadium penyakit yang lebih lanjut, abses kriptus pecah melewati didinding kriptus dan menyebar dalam lapisan mukosa, menimbulkan terowongan dalam mukosa. Mukosa kemudian terkelopas dalam lumen usus, meninggalkan daerah yang tidak diliputi mukosa (tukak). Pertukakan mula-mula tersebar dan dangkal, tetapi pada stadium lebih lanjut permukaan mukosa yang hilang luas sekali mengakibatkan banyak kehilangan jaringan, protein dan darah
Pada kondisi yang fisiologis system imun pada kolon melindungi mukosa kolon dari gesekan dengan feses saat akan defekasi, tetapi karena aktifitas imun yang berlebihan pada colitis maka system imunnya malah menyerang sel-sel dikolon sehingga menyebabkan terjadi ulkus
Ulkus terjadi di sepanjang permukaan dalam (mukosa) kolon atau rectum yang menyebabkan darah keluar bersama feses. Darah yang keluar biasanya bewarna merah, karena darah ini tidak masuk dalam proses pencernaan tetapi darah yang berasal dari pembuluh darah didaerah kolon yang rusak akibat ulkus. Selain itu ulkus yang lama ini kemudian akan menyebabkan peradangan menahun sehingga terbentuk pula nanah (pus).
Ulkus dapat terjadi pada semua bagian kolon baik, pada sekum, kolon ascenden, kolon transversum maupun kolon sigmoid.
Berdasarkan daerah yang terinfeksi kolitis ulseratif dapat dibagi menjadi beberapa tipe, yaitu :

Area yang terinfeksi
Name
Rectum
Ulcerative proctitis
Left side of the colon
Limited, or distal, colitis
Entire colon
Universal, or Pancolitis

Akibat ulkus yang menahun maka terjadilah perubahan bentuk pada kolon baik secara mikroskopik ataupun makroskopik
Gejala yang sering timbul pada penyakit colitis ulseratif ini adalah :
Nyeri perut
Diare berdarah,berlendir dan bernanah
Anemia
Turunnya berat badan


PENUNJANG

Untuk mengetahui pasti diagnose penyakit ini adalah dengan cara melakukan beberapa test penunjang.
Tes pertama yang dilakukan adalah anamnesis dan pemeriksaaan fisik tentunya, pada pemeriksaan fisik , periksalah kekauan dari otot-otot abdominal kemudian perhatikan
Apakah pasien demam dan dehidrasi jika ya, kemungkinan pasien mengalami gejala awal ulkus
Pemeriksaan feses (berdarah, lender dan nanah)
Pada pemeriksaan laboratorium terlihat anemic dan malnutrisi
Sigmoidoskopi, cara yang paling baik yaitu dengan cara memasukan kamera kedalam saluran cerna, dan tampaklah bagian mana yang telah menganai ulkus
Pengobatan yang bisa dilakukan
Pengobatan ditujukan untuk mengendalikan peradangan, mengurangi gejala dan mengganti cairan dan zat gizi yang hilang.Penderita sebaiknya menghindari buah dan sayuran mentah untuk mengurangi cedera fisik pada lapisan usus besar yang meradang. Diet bebas susu bisa mengurangi gejala. Penambahan zat besi bisa menyembuhkan anemia yang disebabkan oleh hilangnya darah dalam tinja.
Obat-obatan seperti :
dosis kecil loperamide atau difenoksilat, diberikan pada diare yang relatif ringan.
Untuk diare yang lebih berat, mungkin dibutuhkan dosis yang lebih besar dari difenoksilat atau opium yang dilarutkan dalam alkohol, loperamide atau codein.
Pada kasus-kasus yang berat, pemberian obat-obat anti-diare ini harus diawasi secara ketat, untuk menghindari terjadinya megakolon toksik.
Sulfasalazine, olsalazine atau mesalamine sering digunakan untuk mengurangi peradangan pada kolitis ulserativa dan untuk mencegah timbulnya gejala
Obat-obatan ini biasanya diminum namun bisa juga diberikan sebagai enema (cairan yang disuntikkan ke dalam usus) atau supositoria (obat yang dimasukkan melalui dubur).
Penderita dengan kolitis berat menengah yang tidak menjalani perawatan rumah sakit, biasanya mendapatkan kortikosteroid per-oral (melalui mulut), seperti prednisone.Prednisone dosis tinggi sering memicu proses penyembuhan. Setelah prednisone mengendalikan peradangannya, sering diberikan sulfasalazine, olsalazine atau mesalamine.Secara bertahap dosis prednisone diturunkan dan akhirnya dihentikan. Pemberian kortikosteroid jangka panjang menimbulkan efek samping, meskipun kebanyakan akan menghilang jika pengobatan dihentikan.
Bila kolitis ulserativa yang ringan atau sedang terbatas pada sisi kiri usus besar (kolon desendens) dan di rektum, bisa diberikan enema dengan kortikosteroid atau mesalamine.Bila penyakitnya menjadi berat, penderita harus dirawat di rumah sakit dan diberikan kortikosteroid intravena (melalui pembuluh darah).
Penderita dengan perdarahan rektum yang berat mungkin memerlukan transfusi darah dan cairan intravena.Untuk mempertahankan fase penyembuhan, diberikan azathioprine dan merkaptopurin.Siklosporin diberikan kepada penderita yang mendapat serangan berat dan tidak memberikan respon terhadap kortikosteroid. Tetapi sekitar 50% dari penderita ini, akhirnya memerlukan terapi pembedahan.
Pembedahan
Kolitis toksik merupakan suatu keadaan gawat darurat. Segera setelah terditeksi atau bila terjadi ancaman megakolon toksik, semua obat anti-diare dihentikan, penderita dipuasakan, selang dimasukan ke dalam lambung atau usus kecil dan semua cairan, makanan dan obat-obatan diberikan melalui pembuluh darah.
Pasien diawasi dengan ketat untuk menghindari adanya peritonitis atau perforasi.Bila tindakan ini tidak berhasil memperbaiki kondisi pasien dalam 24-48 jam, segera dilakukan pembedahan, dimana semua atau hampir sebagian besar usus besar diangkat.
Jika didiagnosis kanker atau adanya perubahan pre-kanker pada usus besar, maka pembedahan dilakukan bukan berdasarkan kedaruratan.Pembedahan non-darurat juga dilakukan karena adanya penyempitan dari usus besar atau adanya gangguan pertumbuhan pada anak-anak.
Alasan paling umum dari pembedahan adalah penyakit menahun yang tidak sembuh-sembuh, sehingga membuat penderita tergantung kepada kortikosteroid dosis tinggi.Pengangkatan seluruh usus besar dan rektum, secara permanen akan menyembuhkan kolitis ulserativa.
Penderita hidup dengan ileostomi (hubungan antara bagian terendah usus kecil dengan lubang di dinding perut) dan kantong ileostomi. Prosedur pilihan lainnya adalah anastomosa ileo-anal, dimana usus besar dan sebagian besar rektum diangkat, dan sebuah reservoir dibuat dari usus kecil dan ditempatkan pada rektum yang tersisa, tepat diatas anus.

ASUHAN KEPERAWATAN

Perubahan eliminasi usus : Diare
Berhubungan dengan malabsorpsi, atau inflamasi

Data mayor :
Feses lunak, cair dan atau
Peningkatan frekwensi defekasi

Data minor :
Dorongan
Nyeri abdomen
Frekwensi bising usus meningkat
Peningkatan dalam keenceran atau volume feses

Kriteria hasil :
Klien akan :
Menggambarkan faktor-faktor yang mempengaruhi jika mengetahuinya.
Menjelaskan rasional dari intervensi
melaporkan diare berkurang

Intervensi :
Kurangi diare
Tingkatkan masukan oral untuk mempertahankan berat jenis normal urine.
Perbanyak cairan tinggi kalium dan natrium (air daging)
hati-hati terhadap penggunaan cairan yang sangat panas atau dingin.
Jelaskan pada klien dan orang terdekat tentang intervensi yang perlu dilakukan untuk pencegahan mendatang.

Kekurangan volume cairan
Berhubungan dengan peningkatan kehilangan cairan : Diare

Data mayor
Ketidakcukupan masukan cairan oral
Keseimbangan negatif antara masukan dan haluaran
Penurunan berat badan
Kulit/membran mukosa kering

Data minor
Peningkatan natriun serum
Penurunan haluaran urine atau haluaran berlebihan
Urine memekat atau sering berkemih
Penurunan turgor kulit
Haus/mual/anokresia

Kriteria hasil
Individu akan :
Meningkatkan masukan cairan minimal 2000 ml/hari (kecuali bila ada kontraindikasi)
Menceritakan perlunya untuk meningkatkan masukan cairan selama stres atau panas
Mempertahankan berat jenis urine dalam batas normal
Memperlihatkan tidak adanya tanda dan gejala dehidrasi

Intervensi
Kaji yang disukai dan yang tidak disukai; beri minuman kesukaan dalam batas diet
Rencanakan tujuan masukan cairan untuk setiap pergantian (mis; 1000 ml selama pagi, 800 ml sore, dan 200 ml malam hari)
Kaji pengertian individu tentang alasan-alasan untuk mempertahankan hidrasi yang adekuat dan metoda-metoda untuk mencapai tujuan masukan cairan.
Suruh individu mempertahankan laporan yang tertulis dari masukan cairan dan haluaran urine, jika perlu.
Pantau masukan; pastikan sedikitnya 1500 ml peroral setiap 24 jam.
Pantau haluaran; pastikan sedikitnya 1000-1500 ml setiap 24 jam.
Pantau berat jenis urine
Timbang berat badan setiap hari dengan jenis baju yang sama, kehilangan berat badan 2%-4% menunjukan dehidrasi ringan, 5%-9% dehidrasi sedang.
9. Ajarkan bahwa kopi, teh, dan jus buah anggur menyebabkan diuresis dan dapt menambah kehilangan cairan.
Pertimbangkan kehilangan cairan tambahan yang berhubungan dengan muntah, diare, demam, selang drein.
Pantau kadar elektrolit darah, nitrogen urea darah, urine dan serum osmolalitas, kreatinin, hematokrit, dan hemoglobin.

Gangguan Pola Tidur
Berhubungan sering terbangun : Diare

Data mayor :
Kesukaran untuk tertidur dan tetap tidur

Data minor :
Keletihan waktu bangun atau sepanjang hari
Tidur sejenak atau sepanjang hari
Agitasi
Perubahan suasana hati

Kriteria hasil
Individu akan :
Menggambarkan faktor yang mencegah atau menghambat tidur.
Mengidentifikasi teknik untuk menginduksi tidur.
melaporkan keseimbangan optimal dari istirahat dan aktivitas.

Intervensi :
Kurangi kebisingan.
Organisasi prosedur untuk memberikan jumlah terkecil gangguan selama periode tidur (mis; sewaktu individu bangun untuk pengobatan juga berikan penanganan dan pengukuran tanda vital)
Jika berkemih sepanjang malam mengganggu, batasi masukan cairan waktu malam dan berkemih sebelum berbaring.
Tetapkan bersama individu suatu jadwal untuk program aktivitas sepanjang waktu (jalan, terapi fisik)
Batasi jumlah dan panjang waktu tidur jika berlebihan (mis; lebih dari 1 jam)
Kaji bersama individu, keluarga, atau orang tua terhadap waktu tidur rutin – waktu praktik kebersihan, ritual (membaca, mainan) – dan patuhi sedekat mungkin jika memungkinkan.
Batasi masukan minuman yang mengandung kafein
Jelaskan kepada individu dan orang terdekat lainnya penyebab gangguan tidur/istirahat dan kemungkinan cara untuk menghindarinya.


Perubahan Kenyamanan : Nyeri
Berhubungan dengan inflamasi dan otot polos : Infeksi gastrointestinal ( colitis ulseratif)

Data mayor :
Individu melaporkan bahwa nyeri telah ada lebih dari 6 bulan (mungkin satu-satunya pengkajian data yang ada)

Data minor :
Ketidaknyamanan.
Marah, frustrasi, depresi karena situasi.
Raut wajah kesakitan.
Anoreksia, penurunan berat badan.
Insomnia.
Gerakan yang sangat hati-hati.
Spasme otot.
Kemerahan, bengkak, panas.
Perubahan warna pada area yang terganggu.
Abnormalitas refleks.

Kriteria hasil :
Individu akan
1. Mengungkapkan bahwa orang lain mengesahkan bahwa nyeri itu ada.
2. Melakukan tindakan penurun nyeri noninvasif yang dipilih untuk menangani nyeri.
3. Mengungkapkan adanya kemajuan dan peningkatan aktivitas sehari-hari.

Intervensi :
Kaji pengalaman nyeri individu; tentukan intensitas nyeri pada saat terburuk dan terbaik.
Berikan informasi yang akurat untuk mengurangi ketakutan.
Ungkapkan penerimaan anda tentang respons terhadap nyeri
Mengakui adanya nyeri.
Mendengarkan dengan penuh perhatian pada keprihatinan terhadap nyeri individual.
Perlihatkan bahwa anda mengkaji nyeri karena anda ingin lebih mengerti.
Kaji keluarga untuk mengetahui adanya kesalahan konsep tentang nyeri atau penanganannya.
Bicarakan alasan-alasan mengapa seorang individu mengalami peningkatan atau penurunan nyeri.
Berikan dorongan anggota keluarga untuk saling menceritakan rasa prihatinnya secara pribadi.
Kaji apakah keluarga menyangsikan nyeri dan bicarakan pengaruhnya pada individu yang mengalami nyeri.
Anjurkan keluarga untuk tetap memberikan perhatian walaupun nyeri tidak diperlihatkan.
Berikan individu kesempatan untuk istirahan selama siang dan dengan waktu tidur yang tidak terganggu pada malam hari.
Bicarakan dengan individu dan keluarga penggunaan terapi distraksi, bersamaan dengan metode lain untuk menurunkan nyeri.
Ajarkan metode distraksi selama nyeri akut, bernapas dengan teratur.
Ajarkan penurunan nyeri noninvasif (rujuk ke intervensi nyeri akut)
Berikan individu pengurang rasa sakit yang optimal dengan analgesik.
Setelah pemberian pengurang rasa sakit, kembali 30 menit kemudian untuk mengkaji efektifitasnya.
Berikan informasi yang akurat untuk meluruskan kesalahan konsep pada keluarga (mis; ketagihan, ragu-ragu tentang nyeri).
Kaji pengaruh nyeri kronis pada kehidupan individu, melalui individu dan keluarga.
Kinerja (pekerjaan, tanggung jawab peran)
Interaksi sosial.
Finansial.
Kegiatan sehari-hari (tidur, makan, mobilitas, seksual)
Kognitif/suasana hati (konsentrasi, depresi)
Unit keluarga (respons-respons dari anggota keluarga)
Jelaskan hubungan antara nyeri kronis dan depresi.
Bicarakan dengan individu dan keluarga berbagai modalitas tindakan yang tersedia (terapi keluarga, terapi kelompok, modifikasi perilaku, hipnosis,akupuntur, program latihan).







Daftar Pustaka :
Andrianto P, Rakel, Terapi Mutakhir Conn 1984 – 1985, EGC ; Jakarta, 1985
Diagnosa Keperawatan NANDA

Ganong, William E, MD, Fisiologi Kedokteran Edisi 10, ECG ; jakarta, 1983

Pierce, Evellyn G., Anatomi Fisiologi untuk Paramedis, PT.Gramedia: Jakarta,1993

Sylvia A.price Lorraine M, Wilson, Patofisilogi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Vol.1. Edisi 6 ,EGC; Jakarta, 2006

www.semangateli.blogspot.com/2008_03_01
www.medicastore.com/nutracare/isi-enzym.php
www.medic-fighting.blogspot.com/2008/02
www.indonesiaindonesia.com/f/10717-kolitis-ulserativa/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar