Selasa, 01 Februari 2011

Metode Kontrasepsi Implant

A. Pendahuluan
Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang tidak lepas dari masalah kependudukan. Secara garis besar masalah-masalah pokok bidang kependudukan yang dihadapi Indonesia adalah jumlah penduduk yang besar dengan laju pertumbuhan penduduk yang relatif tinggi, penyebaran yang tidak merata, struktur usia muda dan kualitas penduduk yang masih harus ditingkatkan. Oleh karena itu berbagai program kependudukan telah dilaksanakan yang bertujuan mengurangi beban kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan akibat tekanan kependudukan dan meningkatnya upaya mensejahterakan penduduknya melalui dukungan program-program pembangunan termasuk Keluarga Berencana (Wiknjosastro, 2002).
Program Keluarga Berencana adalah bagian yang terpadu (Integral) dalam program Pembangunan Nasional dan bertujuan untuk turut serta menciptakan kesejahteraan ekonomi, spiritual dan sosial budaya penduduk Indonesia, agar dapat dicapai keseimbangan yang baik dengan kemampuan produksi nasional (Departemen Kesesehatan Republik Indonesia [Depkes RI]. 1996).
Keluarga Berencana merupakan salah satu usaha yang dikerjakan dengan secara sadar dan bertanggung jawab dalam mengatur kelahiran dan kehamilan serta tidak bertentangan dengan hukum dan norma agama. Keluarga Berencana secara hakiki adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan. Penundaan kehamilan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera (Hartanto, 2003).
Paradigma baru program Keluarga Berencana Nasional telah diubah visinya dari mewujudkan Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS) menjadi visi utuk mewujudkan “Keluarga Berkualitas Tahun 2015” dimana misinya sangat menekankan pentingnya upaya menghormati hak-hak reproduksi sebagai upaya integral dalam meningkatkan kualitas keluarga. Oleh karena itu diperlukan suatu metode kontrasepsi untuk mengatur kelahiran anak (Saifuddin, 2006).
Kontrasepsi merupakan metode untuk menghindari atau mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan antara sel telur yang matang dengan sel sperma. Cara kerja Kontrasepsi pada umumnya sama yaitu mencegah ovulasi, meningkatkan kekentalan leher rahim dan membuat dinding rongga rahim tidak siap menerima hasil pembuahan serta menghalangi pertemuan sel telur dengan sperma.
Umumnya Metode Kontrasepsi dibagi menjadi metode sederhana : kondom, diafragma, cream, jelly, vaginal tablet, metode efektif : Pil KB, suntikan KB, Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR), Susuk KB (Implant), dan metode mantap dengan cara operasi (kontransepsi mantap) : tubektomi dan vesektomi. Cara-cara Kontrasepsi tersebut, mempunyai tingkat efektifitas yang berbeda-beda dalam memberikan pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya kehamilan (Dep-Kes. RI, 1996).
Seiring perkembangan zaman banyak pilihan alat kontrasepsi yang ditawarkan. Tetapi masih banyak pasangan dimasyarakat yang belum mengetahui Metode Kontrasepsi Efektif Terpilih (MKET) lebih dikarenakan oleh ketidaktahuan mereka tentang persyaratan dan keamanan Metode Kontrasepsi. Tidak ada satupun metode kontrasepsi yang aman dan efektif bagi semua klien karena masing-masing mempunyai kesesuaian dan kecocokan individu bagi setiap klien. Namun secara umum persyaratan Metode Kontrasepsi Ideal adalah aman, berdaya guna, dapat diterima, terjangkau harganya dimasyarakat dan apabila metode tersebut dihentikan penggunaannya kesuburan klien akan segera kembali kecuali Kontrasepsi Mantap (Mochtar, R, 1998).
Salah satu Metode Kontrasepsi Efektif adalah Implant. Implant atau yang lebih dikenal dengan KB Susuk sejak tahun 1981 telah mulai diteliti dan dikembangkan di Indonesia. Di luar negeri, cara baru Implant telah diuji coba klinik secara baik dan teliti, lalu dipakai sebagai kontrasepsi sejak tahun 1972. di berbagai negara di dunia sejak tahun 1981 Implant telah dipakai lebih dari 10 ribu wanita dan mulai dapat diterima oleh masyarakat (Mochtar, R, 1998). Implant adalah alat kontrasepsi yang disusupkan dibawah kulit lengan atas sebelah dalam, berbentuk kapsul silastik (lentur) panjangnya sedikit lebih pendek dari pada batang korek api dimana dalam setiap kapsul berisi hormon levonorgestril yang dapat mencegah terjadinya kehamilan. Implant mempunyai cara kerja menghambat terjadinya ovulasi, menyebabkan selaput lendir endometrium tidak siap untuk nidasi / menerima pembuahan, mempertebal lendir serviks / rahim dan menipiskan lapisan endometrium/selaput lendir dengan tingkat keberhasilan efektivitas implant 97 – 99 % (BKKBN, 2006).
B. Implant
a. Pengertian Implant
Alat kontrasepsi yang disusupkan dibawah kulit lengan atas sebelah dalam berbentuk kapsul silastik (lentur) panjangnya sedikit lebih pendek dan pada batang korek api dan dalam setiap batang mengandung hormon levonorgestrel yang dapat mencegah terjadinya kehamilan (BKKBN, 2006).
b. Jenis Implant
Jenis-jenis implant menurut Saifuddin (2006) adalah sebagai berikut :
1) Norplant terdiri dari 6 batang silastik lembut berongga dengan panjang 3,4 cm dengan diameter 2,4 mm, yang berisi dengan 36 mg levonorgestrel dan lama kerjanya 5 tahun.
2) Implanon terdiri dari 1 batang putih lentur dengan panjang kira-kira 40 mm, dan diameter 2 mm, yang berisi dengan 68 mg 3 ketodesogestrel dan lama kerjanya 3 tahun.
3) Jadena dan Indoplant terdiri dari 2 batang yang berisi dengan 75 mg levonorgestrel dengan lama kerja 3 tahun.
c. Mekanisme Kerja
Cara kerja implant yang setiap kapsul susuk KB mengandung 36 mg levonorgestrel yang dikeluarkan setiap harinya sebanyak 80 mg. Konsep mekanisme kerjanya menurut Manuaba (1998) adalah :
1) Dapat menghalangi pengeluaran LH sehingga tidak terjadi ovulasi.
2) Mengentalkan lendir serviks dan menghalangi migrasi spermatozoa.
3) Menipiskan endometrium sehingga tidak siap menjadi tempat nidasi.
d. Efektifitas Implant
Menurut Hartanto, (2002) efektifitas implant adalah :
1) Angka kegagalan norplant kurang 1 per 100 wanita pertahun dalam lima tahun pertama. Ini lebih rendah dibandingkan kontrasepsi oral, IUD dan metode barier.
2) Efektifitas norplant berkurang sedikit setelah 5 tahun dan pada tahun ke 6 kira-kira 2,5-3 % akseptor menjadi hamil.
3) Norplant -2 sama efektifnya seperti norplant juga akan efektif untuk 5 tahun, tetapi ternyata setelah pemakaian 3 tahun terjadi kehamilan dalam jumlah besar yang tidak diduga sebelumnya, yaitu sebesar 5-6 %. Penyebabnya belum jelas, disangka terjadi penurunan dalam pelepasan hormonnya.
e. Indikasi
Pemasangan implant menurut Saifuddin (2006) dapat dilakukan pada :
1) Perempuan yang telah memilih anak ataupun yang belum.
2) Perempuan pada usia reproduksi (20 – 30 tahun).
3) Perempuan yang menghendaki kontrasepsi yang memiliki efektifitas tinggi dan menghendaki pencegahan kehamilan jangka panjang.
4) Perempuan menyusui dan membutuhkan kontrasepsi.
5) Perempuan pasca persalinan.
6) Perempuan pasca keguguran.
7) Perempuan yang tidak menginginkan anak lagi, menolak sterilisasi.
8) Perempuan yang tidak boleh menggunakan kontrasepsi hormonal yang mengandung estrogen.
9) Perempuan yang sering lupa menggunakan pil.
f. Kontraindikasi
Menurut Saifuddin (2006) menjelaskan bahwa kontra indikasi implant adalah sebagai berikut :
1) Perempuan hamil atau diduga hamil.
2) Perempuan dengan perdarahan pervaginaan yang belum jelas penyababnya.
3) Perempuan yang tidak dapat menerima perubahan pola haid yang terjadi.
4) Perempuan dengan mioma uterus dan kanker payudara.
5) Perempuan dengan benjolan/kanker payudara atau riwayat kanker payudara.
g. Keuntungan
Keuntungan dari implant menurut Saifuddin (2006) adalah :
1) Keuntungan kontrasepsi yaitu :
a) Daya guna tinggi.
b) Perlindungan jangka panjang (sampai 5 tahun).
c) Pengembalian tingkat kesuburan cepat setelah pencabutan.
d) Tidak memerlukan pemeriksaan dalam.
e) Bebas dari pengaruh estrogen.
f) Tidak mengganggu kegiatan senggama.
g) Tidak mengganggu ASI.
h) Klien hanya perlu kembali ke klinik bila ada keluhan.
i) Dapat dicabut setiap saat sesuai dengan kebutuhan.
2) Keuntungan non kontrasepsi yaitu :
a) Mengurangi nyeri haid.
b) Mengurangi jumlah darah haid
c) Mengurangi/memperbaiki anemia.
d) Melindungi terjadinya kanker endometrium.
e) Menurunkan angka kejadian kelainan anak payudara.
f) Melindungi diri dari beberapa penyebab penyakit radang pangul.
g) Menurunkan angka kejadian endometriosis.
h. Kerugian
Hartanto, (2002) mengemukakan bahwa kerugian implant adalah:
1) Insersi dan pengeluaran harus dilakukan oleh tenaga terlatih.
2) Petugas medis memerlukan latihan dan praktek untuk insersi dan pengangkatan implant.
3) Lebih mahal.
4) Sering timbul perubahan pola haid.
5) Akseptor tidak dapat menghentikan implant sekehendaknya sendiri.
6) Beberapa wanita mungkin segan untuk menggunakannya karena kurang mengenalnya.
7) Implant kadang-kadang dapat terlihat orang lain.
i. Cara pemasangan
Menurut Manuaba (1998) teknik pemasangan implant adalah sebagai berikut:
1) Rekayasa tempat pemasangan dengan tepat (apabila terdiri dari 6 kapsul buah seperti kipas terbuka).
2) Tempat pemasangan di lengan kiri atas, dipatirasa dengan likokain 2%.
3) Dibuat insisi kecil, sehingga trokar dapat masuk.
4) Trokar ditusukkan subkutan sampai batasnya.
5) Kapsul dimasukkan ke dalam trokar, dan didorong dengan alat pendorong sampai terasa ada tahanan.
6) Untuk menempatkan kapsul, trokar ditarik ke luar.
7) Untuk menyakinkan bahwa kapsul telah di tempatnya, alat pendorong dimasukkan sampai terasa tidak ada tahanan.
8) Setelah 6 kapsul dipasang, bekas insisi ditutup dengan tensoplas (band aid). Teknik ini berlaku untuk semua jenis implant.
j. Efek samping / Komplikasi dan cara Penanggulangannya
Saifuddin (2006) menjelaskan bahwa efek samping / komplikasi dan cara penanggulangannya adalah sebagai berikut :
1) Amenorea
a) Pastikan hamil atau tidak hamil, bila tidak hamil tidak memerlukan penanganan khusus, khusus konseling saja.
b) Bila klien tetap saja tidak menerima, angkat implant dan angjurkan menggunakan kontrasepsi lain.
c) Bila terjadi kehamilan dan klien ingin melanjutkan kehamilannya, cabut implant dan jelaskan, bahwa progestin tidak berbahaya bagi janin. Bila diduga kehamilan ektopik, klien dirujuk. Tidak ada gunanya memberikan obat hormon untuk memancing timbulnya perdarahan.
2) Perdarahan, bercak (spotting) ringan
a) Jelaskan bahwa perdarahan ringan sering ditemukan terutama pada tahun pertama.
b) Bila tidak ada masalah dan klien tidak hamil, tidak diperlukan tindakan apapun.
c) Bila klien tetap saja mengeluh masalah perdarahan dan ingin melanjutkan pemakaian implant dapat diberikan pil kombinasi satu siklus, atau ibuprofen 3 x 800 mg selama 5 hari. Terangkan kepada klien bahwa akan terjadi perdarahan setelah pil kombinasi habis.
d) Bila terjadi perdarahan lebih banyak dari biasa, berikan 2 tablet pil kombinasi untuk 3-7 hari dan kemudian dilanjutkan dengan satu siklus pil kombinasi, atau dapat juga diberikan 50 µg estinilestradiol atau 1,25 mg estrogen equin konjugasi untuk 14-21 hari.
3) Ekspulasi
a) Cabut kapsul yang ekspulsi, periksa apakah kapsul lain masih di tempat, dan apakah terdapat tanda-tanda infeksi daerah insersi.
b) Bila tidak ada infeksi dan kapsul lain masih berada pada tempatnya, pasang kapsul baru 1 buah pada tempat insersi yang berbeda.
c) Bila ada infeksi cabut seluruh kapsul yang ada dan pasang kapsul baru pada lengan yang lain, atau anjurkan klien menggunakan metode kontrasepsi lain.
4) Infeksi pada daerah insersi
a) Bila terjadi infeksi tanpa nanah, bersihkan dengan sabun dan air, atau antiseptik. Berikan antibiotik yang sesuai untuk 7 hari.
b) Implant jangan dilepas dan klien diminta kembali satu minggu.
c) Apabila tidak membaik, cabut implant dan pasang yang baru. Pada sisi lengan yang lain atau cari metode kontrasepsi yang lain.
d) Apabila ditemukan abses, bersihkan dengan antiseptik, insisi dan alirkan pus keluar, cabut implant lakukan perawatan luka, dan berikan antibiotik oral 7 hari.
5) Berat badan naik / turun
a) Informasikan kepada klien bahwa perubahan berat badan 1-2 kg adalah normal. Kaji ulang diet klien apabila terjadi perubahan berat badan 2 kg atau lebih.
b) Apabila perubahan berat badan ini tidak dapat diterima, bantu klien mencari metode lain.

DAFTAR PUSTAKA
BKKBN, 1996. Kapita Selekta Peningkatan Pelayanan Kontrasepsi”.
BKKBN, 2006. Alat Kontrasepsi Bawah Kulit (Implant/Susuk KB).
Departemen Kesehatan RI, 1996. Buku Pedoman Fasilitas Pelayanan Keluarga Berencana.
Hartanto, Hanafi. 2002. Keluarga Berencana dan Kontrasepsi, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.
Manuaba, Gde, Bagus Ide. 1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan, EGC, Jakarta
Mochtar, Rustam. 1998. ”Sinopsis Obsterti Jilid II”, EGC Jakarta
Saifuddin, Bari, A. 2006. Buku Pedoman Praktis Pelayanan Kontrasepsi, Yayasan Bina Pustaka, Jakarta.
Wiknjosastro, Hanafi. 2002. ”Ilmu Kandungan”. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar