Jumat, 04 Maret 2011

RENDAHNYA PRESTASI SISWA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS Oleh : Nor Alimah,S.Pd

I. LATAR BELAKANG

Pendidikan Bahasa Inggris di Sekolah Dasar tidak dimaksudkan untuk menjadi beban melainkan untuk menyiapkan peserta didik memenuhi jenjang pendidikan menengah dan seterusnya dengan modal bahasa lisan yang dapat digunakan dalam aktivitas interaktif di dalam kelas.
Proses pembelajaran yang menyenangkan dapat menimbulkan sikap positif terhadap mata pelajaran Bahasa Inggris sehingga peserta didik tidak takut berbicara. Maka tugas guru adalah merancang berbagai kegiatan yang memudahkan peningkatan prestasi siswa. Untuk itu guru dapat menggunakan berbagai strategi misalnya dengan menggunakan berbagai macam metode mengajar yang tepat dan sesuai dengan materi yang diajarkan.
Rendahnya prestasi belajar siswa dalam pembelajaran Bahasa Inggris dikarenakan mata pelajaran ini hanya dimasukkan dalam mata pelajaran Muatan Lokal bukan mata pelajaran tersendiri. Sekolah-sekolah diberi kebebasan untuk mengajarkan atau tidak, kemudian banyak sekolah yang tidak siap untuk mengajarkan Bahasa Inggris karena tidak ada silabus atau program juga guru yang khusus dengan latar belakang pendidikan Bahasa Inggris.
Dalam kaitannya demgan peningkatan prestasi dalam pembelajaran Bahasa Inggris sebelumnya telah banyak upaya-upaya yang dilaksanakan. Upaya-upaya dimaksud secara bertahap dan berkesinambungan tetap dilaksanakan.
Oleh karena itu dengan cara bagaimanapun atau dengan alasan apapun, peningkatan kualitas pendidikan mutlak untuk diupayakan atau dilaksanakan secara konsekuen dan bertanggung jawab.






II. MASALAH RENDAHNYA PRESTASI SISWA

Berdasarkan hasil pemantauan sekilas dilapangan rendahnya prestasi siswa khususnya dalam mata pelajaran Bahasa Inggris disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain sebagai berikut :
1. Faktor guru/pendidik
Guru pada prinsipnya memiliki peranan yang sangat penting dan sangat strategis dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan seperti yang telah digariskan. Bahkan ada sebagian anggota masyarakat beranggapan bahwa guru atau tenaga kependidikan merupakan faktor penentu terhadap keberhasilan program pendidikan. Kiranya ini dapat dimaklumi mengingat peran guru selain mengajar, membimbing, melatih juga mendidik.
Sehubungan dengan itu jika para guru memiliki keterbatasan baik dibidang ilmu pengetahuan, pengalaman maupun keterampilan, maka apa yang dapat diharapkan dari guru tersebut. Lebih-lebih jika guru yang bersangkutan tidak memiliki komitmen terhadap tugas yang disandangnya, maka akibatnya akan lebih fatal. Karena tanpa adanya komitmen terhadap tugas, sangat mustahil jika mereka memiliki keinginan untuk mengasah diri, baik dalam hal ini penguasaan kurikulum, materi untuk setiap mata pelajaran, penggunaan metode pembelajaran, pemelihan dan penentuan alat peraga yang tepat, juga dalam hal pengunaan alat evaluasi. Sehingga KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) yang dilaksanakan tidak akan mengalami peningkatan ditinjau dari sisi kualitas, bahkan cenderung akan menurun.
2. Faktor Anak.
Anak didik selain sebagai obyek, juga merupakan sebagai subyek dalam proses pendidikan Oleh karena itu rendahnya prestasi belajar yang dicapai dapat pula disebabkan oleh faktor anak tersebut.
Sebagaimana diketahui bahwa anak masing-masing memiliki perbedaan indvidual, baik dalam bidang kemampuan, kematangan, maupun tempo/irama perkembangannya. Kondisi semacam itu menyebabkan terjadinya perbedaan dalam menerima informasi dari luar, termasuk informasi dari guru dalam pembelajarn di kelas.
3. Faktor orang tua/keluarga.
Pendidikan pada prinsipnya merupakan tanggung jawab bersama antara orang tua, masyarakat dan pemerintah. Ketentuan semacam ini sesungguhnya secara eksplisit telah termaktub dalam GBHN maupun UU No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Namun demikian kenyataan yang sering kita jumpai dilapangan justru sangat berbeda. Dalam kaitan ini para orang tua atau pihak keluarga umumnya mempercayakan pendidikan anak-anaknya secara totalitas pada pihak sekolah. Masing-masing memiliki argumentasi yang cukup logis dan realitas. Misalnya mereka merasa sudah memberikan imbalan yang cukup, karena sibuk, dan sebagainya.
Apapun alasannya, hal ini jelas tidak dapat dibenarkan, mengingat keberadaan anak itu sendiri justru lebih banyak di lingkungan keluarga ataupun di lingkungan sosialnya, selain waktunya relatif singkat, seorang guru harus menangani sekitar 20 – 30 orang anak. Dengan demikian jika dikalkulasikan secara matematis, maka masing-masing anak hanya akan mendapat porsi waktu beberapa menit saja dari guru yang bersangkutan.


III. PEMECAHAN MASALAH

1. Faktor guru/pendidik
Sebagai seorang guru seyogyanya kita memiliki komitmen yang tinggi terhadap tugas. Mengingat bahwa tugas guru sesnugguhnya sangat mulia. Hanya porfesi gurulah yang mampu menciptakan segudang profesi lainnya. Selanjutnya setelah modal dasar itu kita miliki, maka kita dapat berusaha untuk mengembangkan kemapuan profesional secara optimal. Dengan demikian tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai secara optimal pula.
Seorang guru dikatakan memiliki kemampuan profesional jika guru yang bersangkutan memiliki lima (5) kemampuan (kompetensi) dasar yang tercermin dalan seluruh asfek kehidupan/perilakunya.
Kemampuan (kompetensi) dasar yang perlu dikembangkan agar kegiatan belajar mengajar berlangsung dengan baik, antara lain :
a. Penguasaan terhadap kurikulum.
b. Penguasaan terhadap materi setiap pelajaran.
c. Penguasaan terhadap metode, alat/media belajar dan teknik penilain.
d. Komitmen atau kecintaan guru terhadap tugasnya.
e. Disipilin dalam arti luas.
2. Faktor Anak.
Setiap anak memiliki perbedaan individual, maka para guru dituntut kejelian dan kecermatannya dalam mensiasati program pembelajaran, sehingga potensi yang ada pada masing-masing anak dapat dikembangkan secara optimal. Kesemuanya dapat terlaksana dengan baik apabila guru yang bersangkutan memiliki kemampuan profesional sebagaimana tersebut diatas.
3. Faktor orang tua/keluarga
Pihak keluarga atau orang tua diharapkan dapat memberikan perhatian secara khusus terhadap aktivitas anak-anaknya, terutama ketika anak-anak yang bersangkutan berada dilingkungan keluarga ataupun lingkungan sosialnya. Untuk itu pihak sekolah dapat menjalin hubungan kerjasama dengan pihak orang tua atau keluarga. Salah satu cara yang dapat dikembangkan misalnya dengan menggunakan buku kontrol. Dalam kaitan ini pihak keluarga atau orang tua diharapkan dapat mengadakan kontrol terhadap aktivitas belajar yang dilakukan oleh anak-anaknya, selanjutnya membubuhkan tanda tangan pada buku kontrol/buku penghubung tersebut.





DAFTAR PUSTAKA
.

Direktorat Pendidikan Dasar Majalah (1997) MUTU Media Komunikasi dan Informasi peningkatan mutu pendidikan dasar ,MUTU Vol VI No.03 Edisi Oktober – Desember 1997, Primary Education Quality Improvement Project (PEQIP). Jakarta


Dinas Pendidikan Kalimantan SelatanlSubdin Bina Diknas(2006). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI), Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar dan Standar Kompetensi Lulusan. Banjarmasin





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar