Senin, 18 April 2011

KELUARGA SAKINAH SAKINAH MAWADDAH WA RAHMAH

Sakinah : Berasal dari bahasa Arab yang berarti diam, tenang, tetap.
Mawaddah : Cinta yang terbentuk setelah kawin
Rahmah : Kasih sayang yang kekal sampai akhir, merupakan titipan tuhan yang muncul karena perasaan yang tulus
Istilah “sakinah” digunakan Al-Qur’an untuk menggambarkan kenyamanan keluarga. Istilah ini memiliki akar kata yang sama dengan “sakanun” yang berarti tempat tinggal. Jadi, mudah dipahami memang jika istilah itu digunakan Al-Qur’an untuk menyebut tempat berlabuhnya setiap anggota keluarga dalam suasana yang nyaman dan tenang, sehingga menjadi lahan subur untuk tumbuhnya cinta kasih (mawaddah wa rahmah) di antara sesama anggotanya
al-sakinah disebut dalam surah Al-Fath ayat 4.
Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Di ayat itu, kata sakinah diterjemahkan sebagai ketenangan yang sengaja Allah turunkan ke dalam hati orang-orang mukmin. Ketenangan ini merupakan suasana psikologis yang melekat pada setiap individu yang mampu melakukannya. Ketenangan adalah suasana batin yang hanya bisa diciptakan sendiri. Tidak ada jaminan seseorang dapat menciptakan suasana tenang bagi orang lain.
Jadi, kata “sakinah” yang digunakan untuk menyifati kata “keluarga” merupakan tata nilai yang seharusnya menjadi kekuatan penggerak dalam membangun tatanan keluarga yang dapat memberikan kenyamanan dunia sekaligus memberikan jaminan keselamatan akhirat. Rumah tangga seharusnya menjadi tempat yang tenang bagi setiap anggota keluarga. Keluarga menjadi tempat kembali ke mana pun anggotanya pergi. Mereka merasa nyaman di dalamnya, dan penuh percaya diri ketika berinteraksi dengan keluarga yang lainnya dalam masyarakat.
Dengan cara pandang itu, kita bisa pastikan bahwa akar kasus-kasus yang banyak melilit kehidupan keluarga di masyarakat kita adalah karena rumah sudah tidak lagi nyaman untuk dijadikan tempat kembali. Suami tidak lagi menemukan suasana nyaman di dalam rumah, demikian pula istri. Bahkan, anak-anak sekarang lebih mudah menemukan suasana nyaman di luar rumah. Maka, sakinah menjadi hajat kita semua. Sebab, sakinah adalah konsep keluarga yang dapat memberikan kenyamanan psikologis –meski kadang secara fisik tampak jauh di bawah standar nyaman.


Secara istilah :
1. Keluarga yang terdiri dari muslim danmuslimah
2. Di ikuti dengan pernikahan yang sa menurut agama Islam
3. Melaksanakan kewajiban dan hak masing-masing
4. Saling pengertian dan saling menyayangi, dengan syariat Islam
Keluarga sakinah adalah :
- Keluarga yang dibina atas perkawinan yang sah
- Mampu memenuhi hajat hidup spiritual dan material secara layak dan seimbang
- Diliputi suasanan kasih-sayang antar keluarga dan lingkugannya dengan selaras,serasi
- Mampu menghyati dan mengamalkan serta memperdalam nilai-nilai keimanan ketaqwaan dan akhlak mulia.
Langkah-Langkah Pembinaan :
Usaha awal mencapai keluarga sakinah mawaddah dan rahmah : PRANIKAH
1.Memilih Jodoh :
Dikawini perempuan itu karena hartanya,, keturunannya, kecantikannya, agamanya
Yang terbaik kawinilah karena agamanya (karen Allah)
2. Kafa’ah : ada kesamaan (sama agama), sama hobby, kekayaan, profesi, rupa.
3. Matang Rohani
a. Memahami dan menghayati kewajiban dan hak suami/isteri menurut ajar Islam
b. Tanggung jawab
c. Mandiri
d. Menghargai kasih sayang dan toleransi
e. Sikap sosial dan bermsyarakat
Matang Jasmani
a. UU.Perkawinan NO.1 Thn.1970 Bab II Ps.7 : Pria 19 tahun, wanita 16 tahun
b. Matangnya alat reproduksi
c. Sehat jasmani
Kewajiban Bersama (Suami-Isteri)
1. Saling mengormati orang tua
2. Saling mencitai/menyayangi
3. Saling menghormati, sopan santun dan pengertian
4. Selalu berfikir matang tidak emosional dan bersifat sabar
5. Saling mempercayai, tidak saling membuka rahasia pribadi
6. Saling menerima kelebihan/kekurangan masing-masing
7. Tunaikan kewajiban dulu baru hak
Yang Menyangkut Hak dan Kewajiban Suami Isteri
1. Laki-laki sebagai pemimpin dalan rumah tangga karena Allah telah membrikan kelebihan atas laki-laki
2. Tiga macam yang tidak masuk surga :
o Durhaka dengan orang tua tidak memperhatikan orang tua karena sayang pada isteri.
o Perempuan yang seperti laki-laki dan laki-laki seperti kewanitaan. Perempuan yang mengambil alih tugas suaminya dengan menyepelekan suaminya.
o Tahu isteri berzina (dayyus), laki-laki yang membiarkan isterinya serong.
Sebaik-baik isteri adalah :
a. Menyenangkan hati bila menetap wajahnya
b. Taat bila diperintah
c. Menjaga dirinya dan harta suaminya bila suami tidak di rumah
Keluarga sakinah adalah idaman setiap keluarga muslim, tetapi tidak semua kelurga muslim memproleh atau mendapatkan keluarga yang sakinah. Keluarga sakinah akan didapatkan manakala seluruh anggota keluarga mendukung untuk mengarahkan kesana, islam mengajarkan hal itu melalui pendidikan kepada seluruh anggota keluarga. Pendidikan ini dimulai sejak prenatal atau sebelum lahir, setelah lahir, masa anak-anak, masa dewasa sampai saat dipanggil Allah atau meninggal dunia.
Bahwa tujuan perkawinan menurut islam adalah guna mewujudkan keluraga sakinah. Keluarga Sakinah adalah bkeluarga yang hidup bertakwa kepada Laah swt, sehinng berkesanggupan menjadi panutan orang-orang muttaqin. Untuk mewujudkan keluarga sakinah, suami istri sangat besar peranannya.
Orang tua dibebani kewajiban untuk membimbing kehidupan keluarganya menuju terwujudnya Keluarga Sakinah. Keteladana orang tua sangat menentukan keberhasilannya. Upaya pendidikan anak menuju bertabi’at shaleh, berarti mengamalkan ajaran Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah meliputi aspek-aspek Aqidah Akhlaq, Ibadah, dan Kemasyarakatan. Kebersamaan dalam berusaha mewujudkan Keluarga Sakinah mutlak diperlukan. Umat pengajak kebaikan dan ma’ruf serta mencegah kemungkaran hanya dapat terwujuig jika ruh jama’iyyah dapat ditumbuhkan dan dipupuk dengan baik
Keluarga merupakan salah satu elemen yang akan membangun sebuah masyarakat, dan seperti tadi telah disebutkan, menegakkan Islam dalam keluarga merupakan salah satu tahapan dalam mewujudkan cita-cita Islam. Dengan pemahaman tentang ini tidak terlalu sulit untuk menyimpulkan bahwa sebuah keluarga sakinah (Keluarga yang berhasil menurut standar Islami) adalah cerminan sebuah masyarakat madani. Sedangkan masrakat madani sendiri merupakan standar Islami tentang sebuah masyarakat yang ”makmur, aman, tentram dan damai”.
Ciri/karakteristik keluarga sakinah.
Keluarga Robbani
Bersifat Robbani, Artinya, di dalam keluarga / masyarakat tersebut setiap anggotanya berusaha untuk berlomba di dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT sebagai Perekat utama keluarga/ masyarakat. Mereka menyadari betul bahwa hanya Allah sajalah yang pantas di jadikan tempat meminta bagi terwujudnya kebahagiaan bersama. Sebab mereka meyakini firman Allah sebagai berikut:
“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan)nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan(peliharalah) hubungan silaturrahim.” (4:1)
Sebuah keluarga sakinah tidak pernah menjadikan variabel keduniaan sebagai faktor utama munculnya soliditas internal keluarga. Mereka juga percaya bahwa hanya dengan taqarrub ila Allah (mendekatkan diri kepada Allah) dan menegakkan aturan Allah sajalah maka kebahagiaan, kasih-sayang dan kecintaan sejati akan dirasakan di dalam keluarga. Suatu bentuk kebahagiaan yang tidak dibatasi selama hidup di dunia semata, melainkan jauh hingga berkumpul kembali di akhirat.
Keluarga Yang Cinta Ilmu
"Iqro" (QS. 96 : 1 )Ayat pertama yang turun kepada Nabi kita Saw adalah ayat tadi: ” Bacalah!”, pelajarilah!
Keluarga sakinah adalah keluarga yang cinta ilmu, seperti juga masyarakat madani. Mereka saling belajar dan saling mengajarkan, antara yang tua kepada yang muda maupun sebaliknya. Keluarga yang menghargai ilmu sehingga menempatkan ahli ilmu di tempat yang dihormati, mencari ilmu dan mengajarkannya, serta kemudian bersyukur kepada Allah atas ilmu dan berkah ilmu, dan menggunakannya di jalan Allah. Keluarga sakinah tidak bersikap jumud maupun liberal dalam mensikapi ilmu. Seorang bapak menganjurkan anaknya untuk menuntut ilmu, membiayainya, kemudian juga menghormati anaknya yang mau membagi ilmu itu kepadanya dan siap menerima nasehat anaknya dengan ilmu yang dia (anak itu) pelajari dari gurunya. Bahkan sebelum itu sang bapak-lah yang mencarikan guru terbaik untuk anaknya itu. Singkatnya keluarga sakinah/ rabbani terdiri dari anggota keluarga yang telah manghayati sabda Rasulullah saw berikut:
“Barangsiapa ingin berhasil di dunia, tuntutlah ilmu.Barangsiapa ingin berhasil di akhirat, tuntutlah ilmu.Dan barangsiapa ingin berhasil di dunia dan di akhirat, tuntutlah ilmu.”
Meskipun demikian anggota keluarga sakinah tetap berpegang pada prinsip : ”pendapat siapapun dapat diterima dan ditolak, kecuali dari Allah dan RasulNya yang kita terima tanpa keraguan”.
Keluarga Yang Cinta Damai
Keluarga sakinah, selalu berusaha untuk tampil sebagai rahmat bagi sekelilingnya. Dalam lingkungan yang kecil di dalam keluarga, suasana saling cinta mendasari hubungan antara mereka. Kakak dan adik saling cinta, bapak dan ibu menjadi teladan mereka. Bahkan dengan anggota keluarga temporer (misalnya pembantu rumahtangga) juga disayangi seperti keluarga sendiri, tidak direndahkan dan dianggap sebagai orang suruhan belaka.
Di lingkungan yang lebih besar di luar rumah, di antara tetangga, anggota-anggota keluarga sakinah memperlihatkan sikap dan sifat yang sama, bersikap santun kepada tetangga, tukang jualan, tukang sampah, penunggu warung, dan siapa saja yang ada di lingkungannya. Anak-anak keluarga sakinah akan dikenali dari akhlaknya yang santun, menghormati yang tua, menyayangi yang kecil, tidak suka mengganggu atau merugikan orang lain, jujur ketika berjual beli dan bertutur-kata. Siapapun yang melihat mereka akan berharap anak mereka-pun bersikap serupa, karena kesantunan dan kebaikan akhlak mereka. Anak-anak seperti ini akan menjadi cahaya mata bagi orang tua mereka, bahkan juga bagi lingkungannya. Siapapun akan bangga memiliki warga seperti mereka. Singkatnya mereka berusaha meneladani Rasulullah saw dalam hal yang Allah isyaratkan di dalam firman-Nya:
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (21:107)
Keluarga Yang Egaliter
Keluarga sakinah selalu berusaha mewujudkan suasana “sama tinggi sama rendah” di dalam rumah. Setiap anggota keluarga tidak hanya dikenalkan kewajiban yang harus dipenuhinya, melainkan juga diberitahu akan hak-hak yang dimilikinya. Baik ayah, suami, ibu, isteri maupun anak-anak bahkan pembantu menyadari bahwa ia memiliki hak-hak yang perlu dijaga dan dipenuhi. Dan fihak pertama yang harus memastikan bahwa hak-hak ini terpenuhi adalah kepala keluarga. Bukanlah sebuah miniatur masyarakat Islami atau madani bila yang memperoleh pemenuhan hak hanya sang ayah atau suami sedangkan anak dan isteri hanya punya daftar kewajiban. Misalnya dalam hal saling menasehati. Bukan hanya ayah kepada anak atau ibu kepada anak atau suami kepada isteri terdapat hak menasehati. Melainkan sebaliknya hendaknya dipastikan bahwa anakpun boleh dan dijamin memberikan nasehat kepada orang-tua atau isteri menasehati suami. Inilah miniatur masyarakat Islami dan madani. Ketika Umar bin Khattab berdiri di depan ummat pada hari dilantiknya menjadi khalifah, maka bangunlah seorang lelaki mengangkat pedangnya tinggi-tinggi seraya berujar: “Hai Amirul mu’minin, seandainya perjalanan kepemimpinanmu melenceng dari garis ketentuan Allah dan RasulNya, niscaya pedangku ini akan meluruskanmu.” Maka dengan tawadhu/ rendah hatinya Umar menjawab: “Alhamdulillah ada seorang lelaki ditengah ummat yang Umar pimpin akan meluruskanku tatkala aku menyimpang.” Dan pada saat itu tidak ada seorangpun yang menuduh lelaki tersebut sebagai tidak percaya atau tidak tsiqoh akan kepemimpinan Amirul mu’minin Umar bin Khattab ra. Justeru ke-tsiqoh-annya kepada Umar menyebabkan lelaki tersebut begitu leluasanya menyampaikan aspirasi secara asli dan apa adanya. Hal ini menunjukkan betapa egaliternya suasana masyarakat Islam kala itu. Dan setiap warga menjadi seperti itu karena lahir dari keluarga-keluarga yang memang sejak dini menanamkan nilai-nilai egaliter di rumah masing-masing.
Sumber : Dari berbagai sumber

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar