Minggu, 17 Juli 2011

PEMERIKSAAN FUNGSI MATA

I. ANATOMI MATA



II. STRUKTUR DAN FUNGSI MATA
A. Struktur mata bagian luar.
1. Sclera
Sclera menutup 4/5 dari bola mata, merupakan lapisan jaringan ikat protektif membentuk bagian putih pada mata, di bagian anterior dan membentuk kornea.

2. Kornea
Bagian transparant, tidak ada vaskularisasi, bentuk melengkung, terletak 1/5 bagian depan mata dan berperan dalam kemampuan refraktif mata.

3. Konjungtiva
Menutup bagian anterior dari sclera dan bagian posterior dari kelopak mata, mengandung sel goblet yang mensekresi cairan untuk meminyaki / pelumas mata.

4. Otot – otot luar
Terdapat 6 otot ekstra okuler yang masing – masing diatur oleh nerves ke III ( Okulomotorius ), nerves ke IV ( Troclearis ) dan nerves ke VI ( Abdusen ) antara lain :

a. Otot rectus superior ( N III )
b. Otot rectus lateralis ( N VI )
c. Otot rectus inferior ( N III )
d. Otot rectus medial ( N III )
e. Otot oblique inferior ( N III )
f. Otot oblique superior ( N IV )
Otot otot tersebut berfungsi mengatur atau mengontrol, membuka dan menutup mata.

5. Alat – alat lainnya seperti : alis mata, palpebra, bulu mata, kelenjar airmata.


B. Struktur Mata Bagian Tengah
1. Koroid
Mencegah berhamburnya berkas cahaya di mata, mengandung pembuluh darah yang memberi makanan pada retina membentuk badan siliar dan iris.

2. Badan Siliar
Membentuk aques humour dan mengandung badan siliar

3. Iris
Bentuk melingkar mengelilingi pupil dan berfungsi mengubah ukuran pupil dengan berkontriksi dan menentukan warna mata.

4. Lensa Mata
Berbentuk oval, transparan, elastis, dipegang oleh badan siliar dan berfungsi menghasilkan kemampuan refraktil yang bervariasi selama akomodasi.




C. Struktur Mata Bagian Dalam
1. Retina
Terdapat sel-sel saraf, sel kerucut, sel batang dan membrane epithelium, berfungsi mentransfer impuls ke otak. Sel batang untuk penglihatan gelap dan sel kerucut untuk penglihatan terang.

2. Vitrous Humour
Membantu mempertahankan bentuk mata yang bulat.

3. Fovea
Mengandung konsentrasi yang tinggi pada sel kerucut untuk warna dan penglihatan terang.



III. AKOMODASI
Akomodasi adalah kemampuan lensa untuk mencembung dan mencekung yang terjadi akibat kontraksi otot siliar.
Proses Akomodasi
1. Daya bias meningkat dan badan siliar berkontraksi, lensa mencembung sehingga fokus jatuh tepat diretina.
2. Dipengaruhi oleh kekuatan lensa untuk mencembung dan mencekung secara maksimal oleh kontraksi otot siliar








IV. PEMERIKSAAN MATA
a. Pemeriksaan Buta Warna ( Tes Ishihara )
1) Tujuan
Tes ini dilakukan untuk memeriksa buta warna seseorang.

2) Landasan
Pada retina terdapat 3 sel kerucut yang rentan terhadap salah satu warna primer, sehingga bila terdapat gangguan pada sel kerucut tersebut akan terjadi gangguan penglihatan warna, kerusakan retina mulai sel bipolar sampai ganglion genikulatum lateral akan mengakibatkan gangguan warna merah dan hijau, sedangkan kerusakan neurosensoris mengakibatkan gangguan melihat warna terutama warna biru dan kuning.
Tes Ishihara berupa gambar-gambar Pseudoisokromatik yang disusun oleh titik dan kepadatan warna berbeda sehingga orang normal dapat mengenal gambar atau angka yang disusun oleh titik tersebut. Gambar titik terdiri atas warna primer dengan dasar warna yang hampir sama atau abu-abu. Titik disusun akan menghasilkan pola dan bentuk tertentu oleh orang tanpa kelainan persepsi warna. Buta warna lebih banyak laki-laki dari pada perempuan karena gen pembawa sifat terdapat pada laki-laki sehingga disebut carier.

3) Alat dan bahan
Gambar-gambar Pseudoisokromatik
Jam ( jika diperlukan ).

4) Tehnik
 Dengan penerangan tertentu kartu Ishihara disinari.
 Klien disuruh melihat kartu tersebut dan menyebutkan gambar atau angka yang terlihat.
 Klien diminta melihat dan menyebutkan gambar atau angka tidak lebih dari 10 detik.

5) Penilaian
Bila lebih dari 10 detik berarti terdapat kelainan penglihatan warna
Buta warna merah hijau terdapat atrofi saraf optik, toksik optikneuropati, dengan pengecualian neuropati iskemi, glaucoma atrofi optic yang memberikan gangguan penglihatan biru kuning. Buta warna biru kuning terdapat pada Retinopati Hipertensif, Retinopati Diabetik dan degenerasi macula senile dini. Degenerasi macula Stargardts dan fundus lamikulatus memberikan gangguan penglihatan warna merah-hijau.

Petunjuk Pengisian Gambar
No. 1 : Semua orang baik normal atau buta warna dapat membaca dengan benar angka 12. Bagian ini biasanya digunakan pada awal test.
No. 2 : Pada orang normal terbaca “ 8 “ dengan defesiensi merah-hijau “ 3 “
No. 3 : Pada orang normal terbaca “ 5 “dengan defesiensi merah-hijau “ 2 “
No. 4 : Pada orang normal terbaca “ 29 “dengan defesiensi merah-hijau “ 70 “
No. 5 : Pada orang normal terbaca “ 74 “dengan defesiensi merah-hijau “ 21 “
No. 6 – 7 : Pada orang normal dapat membaca dengan benar tetapi pada orang dengan defesiensi merah hijau, susah atau tidak dapat membacanya.
No. 8 : Pada orang normal dengan jelas “ 2 “ tetapi bagi defesiensi merah-hijau tidak jelas.
No. 9 : Pada orang normal susah atau tidak terbaca tetapi kebanyakan pada orang dengan defesiensi merah hijau melihat “ 2 “.
No.10 : Pada orang normal angka terbaca “ 16 “ tetapi bagi defesiensi merah hijau tidak dapat membaca.
No.11 : Gambar garis yang melilit diantara 2 xs. Pada orang normal, dapat mengikuti garis ungu-hijau. Tetapi pada orang buta warna tidak dapat mengikuti atau dapat mengikuti tapi berbeda dengan orang normal.
No.12 : Pada orang normal dan defesiensi merah hijau melihat angka “ 35 “ tetapi pada protanopia dan protanomali berat hanya dapat membaca angka “ 5 “ dan pada deuteranopia dan deuteranopia berat terbaca angka “ 3 “
No. 13 : Pada orang normal dan defesiensi merah hijau ringan melihat angka
“ 96 “ tetapi pada protonopia dan protonopia berat hanya terbaca “ 6 “.
No. 14 :
• Pada orang normal dapat mengikuti garis yang melilit 2 xs, ungu dan merah.
• Pada protanopia dan protanomali berat hanya mengikuti garis ungu dan pada protanomali ringan kedua garis diikuti tetapi garis ungu kurang terlihat untuk diikuti.
• Pada deuteranopia dan deuteranomalia berat hanya garis merah yang diikuti
• Pada deuteranomalia ringan kedua garis dapat diikuti tetapi garis merah kurang terlihat unyuk diikuti.


b. Pemeriksaan Ketajaman Penglihatan/Visus
1. Tujuan
Untuk mengetahui ketajaman penglihatan seseorang dan memberikan penilaian menurut ukuran baku yang ada.

2. Alat dan bahan
a. Kartu Snellen
b. Kursi (bila diperlukan)
c. Kertas untuk menutup mata (bila diperlukan).

3. Cara pemeriksaan
a. Pemeriksaan dilakukan didalam rungan
b. Klien duduk dengan jarak 6 m dari kartu snellen dengan mata ditutup sebelah.
c. Klien diminta membaca/menyebutkan huruf yang ditunjuk oleh pemeriksa mulai dari atas sampai ke bawah dan tentukan pada baris terakhir yang dapat dibaca.



4. Penilaian
a. Bila huruf yang terbaca pada baris dengan tanda 6 maka disimpulkan tajam penglihatan klien tersebut 6/6.
b. Ketajaman penglihatan digambarkan sebagai 6/x dimana jarak antara klien dan kartu snellen adalah 6 m, dan hasil pemeriksaan terhadap klien adalah x.
c. Jika x = 6 maka ketajaman penglihatan klien tersebut adalah 6/6. Artinya klien dapat membaca pada jarak 6 m seperti orang lain yang rata-rata jaraknya 6 m dan dapat dikatan klien tersebut normal.
d. Jika x = 12 maka klien hanya dapat membaca pada jarak 6 m sedangkan rata-rata orang normal pada jarak 12 m.
e. Jika x = 5 maka klien hanya dapat membaca pada jarak 5 m sedangkan rata-rata orang normal pada jarak 6 m.
JARAK ANTARA PENDERITA DENGAN HURUF OPTOTIPE SNELLEN / JARAK YANG TERTERA PADA KARTU SNELLEN, YANG MENYATAKAN JARAK SEHARUSNYA UNTUK MELIHAT GAMBAR TERSEBUT.


c. Pemeriksaan Refraksi
A. Pemeriksaan miopi
1. Tujuan :
Untuk menegetahui derajat lensa negatif yang diperlukan untuk memperbaiki tajam penglihatan atau tajam penglihatan menjadi baik.

2. Dasar :
Pada miopi sinar yang datang atau jatuh didepan retina maka harus dikoreksi dengan lensa negative.

3. Alat dan bahan :
Bingkai percobaaaan dan satu set lensa coba.

4. Tehnik :
 Klien duduk menghadap kartu snellen yang jaraknya 6 meter.
 Pasang tangkai kaca mata, dengan satu mata ditutup.
 Klien dianjurkan untuk membaca kartu snellen dengan lensa negatif terpasang pada mata yang tdk tertutup.
 Klien dianjurkan membaca kartu snellen mulai dari huruf besar ( teratas ) dan diteruskan sampai pada huruf terkecil yang masih bisa dibaca.
 Lensa negatif terkecil dipasang pada tempatnya dan bila tajam penglihatan menjadi lebih baik, ditambahkan kekuatannya perlahan – lahan sehingga dapat dibaca huruf pada baris terbawah.
 Sebaiknya pada batas 6 / 6.
 Begitu juga dengan mata sebelahnya.

5. Penilaian:
 Bila dengan lensa sferis – 1,50 dengan tajam penglihatan 6/6, kemudian dengan lensa sferis - 1,75 penglihatan 6/6 – 2 .
 Sedangkan dengan lensa sferis – 2,00 penglihatan 6/7,5. Pada keadaan ini derajat miopi mata yang diperiksa adalah lensa sferis – 1,50 dan kacamata dengan ukuran ini diberikan pada penderita.

B. Pemeriksaan Hipermetrop
1. Tujuan
Untuk mengetahui derajat lensa positif yang diperlukan untuk memperbaiki tajam penglihatan.

2. Dasar
Cahaya yang datang difokuskan di belakang retina, diperbaiki dengan lensa negatif.

3. Alat : - Kartu snellen
- Satu set lensa percobaan
- Bingkai percobaan
4. Tehnik
 Klien duduk menghadap kartu snellen yang jaraknya 6 meter.
 Pasang tangkai kaca mata, dengan satu mata ditutup.
 Klien dianjurkan untuk membaca kartu snellen dengan lensa negatif terpasang pada mata yang tdk tertutup.
 Klien dianjurkan membaca kartu snellen mulai dari huruf besar ( teratas ) dan diteruskan sampai pada huruf terkecil yang masih bisa dibaca.
 Lensa negatif terkecil dipasang pada tempatnya dan bila tajam penglihatan menjadi lebih baik, ditambahkan kekuatannya perlahan – lahan sehingga dapat dibaca huruf pada baris terbawah.
 Sebaiknya pada batas 6 / 6.
 Ditambahkan kekuatan lensa + 0,25 lagi dan ditanyakan apakah masih dapat melihat huruf – huruf diatas.
 Begitu juga dengan mata sebelahnya.

5. Penilaian :
 Bila dengan lensa 5 + 2,00 tajam penglihatan 6 / 7,5. Kemudian dengan 5 + 2,25. Tajam penglihatan 6/6-2. Maka pada keadaan ini derajat hipermetropia yang diperiksa S + 2,25. Dengan ukuran ini kacamata tersebut diberikan.
 Pada penderita hipermetrop selamanya diberikan lensa sferis terbesar.

C. Pemeriksaan Presbiopia :
1. Tujuan
Mengukur derajat berkurangnya kemampuan seseorang berakomodasi akibat bertambahnya usia.

2. Dasar
Gangguan akomodasi pada usia lanjut terjadi akibat kurang lenturnya lensa disertai melemahnya kontraksi badan siliar. Pada presbiop titik terdekat yang masih dapat dilihat terletak makin jauh di depan mata dibanding dengan keadaan sebelumnya. Diperbaiki dengan lensa bifokus.

3. Alat : - Kartu snellen
- Satu set lensa percobaan
- Bingkai percobaan
- Kartu baca dekat.
4. Tehnik :
 Penderita diperiksa mengenai sentral penglihatan jauh dan diberikan kacamata jauh sesuai dengan yang diperlukan ( lensa positif, negatif, astigmatit.
 Ditaruh kartu baca dekat pada jarak 30 – 40 cm ( jarak baca ) kemudian dianjurkan untuk membacanya mulai dari yang terkecil dahulu.
 Diberikan lensa positif mulai dari S + 1 yang dinaikkan perlahan – lahan sampai terbaca huruf terkecil pada kartu baca.
 Dilakukan pada mata satu persatu.

5. Penilaian :
Pengukuran lensa yang memberikan ketajaman sempurna merupakan ukuran lensa yang diperlukan untuk kacamata baca.
Hubungan lensa adisi dan umur biasnya :
40 – 45 Tahun
45 – 50 tahun
50 – 55 Tahun
55 – 60 Tahun
> 60 Tahun - 1,00 dioptri
- 1,5 dioptri
- 2,0 dioptri
- 2,5 dioptri
- 3,0 dioptri

D. Pemeriksaan Astigmatis
1. Tujuan
Tujuan untuk menegetahui derajat lensa silindris yang diperlukan dan sumbu silindris yang dipasang untuk memperbaiki tajam penglihatan menjadi normal.

2. Dasar
Padsa astigmaticus didapatkan dua bidang utama dengan kekuatan pambiasan pada satu bidang lebih besar dibanding dengan bidang lain maka diperbaiki dengan lensa silindris.

3. Alat dan bahan : - Kartu snellen
- Bingkai percobaan
- Satu set lensa coba
- Kipas astigmatis.

4. Tehnik.:
 Penderita duduk menghadap kartu snellen pada jarak 6 meter.
 Pasanglah kaca mata dengan syarat tertentu.
 Satu mata ditutup sedangkan mata satunya untuk pemeriksaan dengan jenis ( + ) atau negatif ( - ) sampai tajam tercapai
 Pada mata tersebut dipasang lensa berukuran posif ( - ) yang cukup besar mis ( S + 3,00 )
 Penderita dianjurkan melihat kartu kipas astigmat.
 Penderita ditanya tentang garis pada kipas yang paling atas terlihat.
 Bila belum terlihat perbedaan tebal garis kipas astigmat maka belum lensa 5 + 30. diperlukan sedikit demi sedikit sehingga penderita dapat menentukan garis mana yang terjelas dan mana kabur.
 Lensa silindris relatif dipasang dengan sumbu sesuai dengan garis terkabur pada kipas astigmatic.
 Lensa negatif diperkuat sedikit demi sedikit dengan sumbu tersebut hingga pada satu saat tampak garis yang mula – mula terkabur sama jelasnya.
 Bila sudah tampak sama jelas. Garis pada kipas astigmatic dilakukan tes snellen. Bila penglihatan belum 6/6 sesuai kartun snellen maka mungkin lensa positif. Yang diberikan terlalu berat sehingga perlu secara perlahan – perlahan dikurangi kekeuatan lensa positip atau ditambah lensa negatif.
 Penderita disuruh membaca kartu snellan pada lensa negatif

5. Penilaiaan
Derajat astigmatic soma dengan ukuran lensa silindris pada lensa ( - ) yang dipakai sehinnga gambar kipas astigma tampak sama jelas.


Daftar Pustaka

Ilyas, Sidarta.(2000). Ilmu Penyakit Mata.,Cet kedua. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.
Masalah Kesehatan Mata, cetakan kedua. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.
Dasar Teknik Pemeriksaan Dalam Ilmu Penyakit Mata.,cetakan kedua. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.
Sherwood, Lauralee.(1996). Human Physiologi : From Cell To System. ( 2th ed ).
Departement Of Physiologi School Of Medicene West Virginia University. EGC. Jakarta.
Sim’s, L.K., D’Amico, D.,Stiesmeyer, J. K., dan Webster. J. K. (1995). Healt Assesment In Nursing.,Hal. 246 – 249.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar