Kamis, 12 Januari 2012

Anemia Gizi Besi.

Anemia gizi besi disebabkan karena kekurangan gizi besi. Hal ini dapat terjadi sebab zat gizi besi (Fe) merupakan inti molekul hemoglobin yang merupakan unsur utama dalam sel darah merah, maka kekurangan pasokan zat gizi besi menyebabkan menurunnya produksi hemoglobin. Akibatnya terjadi pengecilan ukuran (mycrocytic), rencahnya kandungan hemoglobin (hyprocromic) serta berkurangnya jumlah sel darah merah Metabolisme Besi. Zat besi dalam tubuh terdiri dari dua bagian, yaitu yang fungsional dan simpanan. Zat besi yang fungsional sebagian besar adalah dalam bentuk hemoglobin (Hb), sebagian kecil dalam bentuk myoglobin, dan jumlah yang sangat kecil tetapi vital adalah enzim dan hem enzim . Fungsi dari hemoglobin di sel darah merah, myoglobin dan beberapa enzim jaringan adalah transport, penyimpanan dan penggunaan oksigen. Hemoglobin merupakan bagian yang terbanyak dari besi tubuh yaitu sekitar 65%, myoglobin 10% dan sitokrom 3%. Senyawsa zat besi berfungsi mempertahankan keseimbangan homeostatis. Apabila konsumsi zat besi dari makanan ridak cukup, maka zat besi dari feritin dan hemosiderin dimobilisasi untuk mempertahankan produksi hemoglobin yang normal. Jumlah zat besi dalam tubuh dipertahankan dalam batas-batas yang sempit. Karena tubuh tidak mampu mengeluarkan zat besi dalam jumlah berarti, maka jumlah zat besi dalam tubuh terutama sangat ditentukan oleh absorbsinya. Kebutuhan besi sehari-hari bergantung kepada tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak. The commite on Nutrition of the American academy of Pediatrtics memberi rekomendasi 1mg/kg/hari, maksimal 15 mg untuk bayi cukup bulan dan 2 mg/kg/hari maksimal 15 mg untuk bayi kurang bulan, 10 mg/kg/hari untuk anak sampai umur 10 tahun dan 18 mg/kg/hari pada umur 11 tahun ke atas. Telah diketahui bahwa absorbsi besi dari besi hem cukup tinggi yaitu sekitar 20 – 40% dan ketersediaan hayati tidak tergantung dengan komposisi diet. Sayangnya besi hem ini hanya merupakan porsi kecil dari makanan, apalagi di masyarakat yang kurang mampu. Di masayarakat ini diet banyak mengandung besi non hem yang ketersediaan hayati rendah dan komposisi yang menghambat absorbsi besi tinggi, seperti tannin dan fitat, sehingga absorbsi dari kelompok ini hanya sekitar 5%. Absorbsi ini dapat diperbaiki kalau makanan tersebut dimakan bersama dengan vitamin C dan daging . Kenyataannya ansorbsi besi tergantung pada derajat kekurangan zat besi. Namun dilaporkan bahwa suplementasi besi setiap tiga hari pada binatang percobaan tikus sama efektifnya dalam status besi yang diberikan besi setiap hari . Kebutuhan zat besi per kilogram berat badan relative lebih tinggi pada bayi dan anak daripada orang dewasa. Pada anak umur 6 – 16 tahun membutuhkan jumlah zat besi sama banyaknya dengan laki-laki dewasa. Tetapi kebutuhan energi total bayi dan anak lebih rendah daripada orang dewasa, dan mereka makan lebih sedikit, karena itu mereka mempunyai resiko lebih tinggi untuk mengalami kekurangan zat besi terutama bila persediaan zat besi dari dalam makanannya rendah. Etiologi Anemia Gizi Besi Pada dasarnya etiologi kekurangan zat besi disebabkan karena keseimbangan negative antara masukan dan pengeluaran zat besi. Pada keadaan yang berhubungan dengan pertumbuhan yang cepat, seperti pada bayi, anak, remaja dan ibu hamil, masukan besi sulit membuat keseimbangan positif. Sebagian besar penduduk yang mengalami kekurangan zat besi, terutama di Negara yangsedang berkembang termasuk Indonesia, disebabkan karena sedikitnya makanan yang mengandung zat besi, terutama mengandung zat besi dengan kestersediaan yang rendah, dan rendahnya konsumsi makanan yang dapat mempunyai kontribusi terhadap absorbsi dan metabolisme zat besi seperti vitamin C, asam folat dan vitamin A, disamping tingginya frekuensi pengeluaran darah kronis, seperti pada infestasi cacing dan malaria . Anemia gizi besi pada anak kebanyakan disebabkan oleh karena proses pertumbuhan yang cepat, masukan besi dalam tubuh yang kurang dan kehilangan darah. Dari beberapa faktor ini dapat berdiri sendiri ataupun interaksi dari beberapa faktor. Anemia gizi besi akibat kehilangan darah pada anak tidak begitu penting dibanding pada orang dewasa. Beberapa keadaan yang dapat menyebabkan anemia gizi besi akibat kehilangan darah antara lain : infestasi parasit, fetal maternal, transfusion, fetalfetal transfusion, plasenta previa dan truma lahir, hipersensitif terhadap susu sapi, epitaksis berulang dan hematuria . Menurut Markum etiologi anemia gizi besi pada anak dapat terjadi karena: a Masukan zat besi kurang. • Jenis makanan besi non-heme. • muntah berulang pada bayi. • pemberian makanan tambahan yang kurang. b Malabsorbsi zat besi. • Gastro enteritis. • kurang energi protein. c.Pengeluaran zat besi berlebihan. • Infestasi cacing. • Amoebiasis. • Dipertikulum meckeli. d Kebutuhan besi meningkat. - Pertumbuhan bayi. - Infeksi. Pada umumnya anemia gizi besi terjadi pada anak yang memang telah berada dalam keadaan keseimbangan besi minimal, sehinga suatu gangguan yang ringan pun dapat langsung menyebabkan keseimbangan besi yang negatif. Beberapa keadaan yang mempermudah terjadinya anemia gizi besi ialah pemberian makanan yang kurang, infeksi, infestasi parasit, keadaan sosioekonomi yang rendah dan fasilitas kesehatan yang kurang . Gejala Klinis Anemia Gizi Besi. Gejala anemia gizi besi yang timbul bergantung kepada beratnya kekurangan yang terjadi. Gejala-gejala ini dapat terjadi akibat dari anemianya maupun akibat aktifitas beberapa enzim yang mengandung besi yang menurun, sehinga efek yang timbul dapat bersifat hematologik maupun nonhematologik. Pada umumnya akan didapati kelelahan, sakit kepala dan yang lebih berat dapat ditemui pucat, glositis, stomatis, kheilitis angularis, palpitasi dan koilokhia dalam . 6. Diagnosis Anemia Gizi Besi. Anemia dapat di diagnosis dengan pasti kalau kadar hemoglobin lebih rendah dari batas normal, berdasarkan kelompok umur/jenis kelamin. Uji laboratorium yang paling baik untuk mendiagnosisi anemia meliputi pengukuran hematorit atau kadar hemoglobin dengan metode sian- methemoglobin.Pemeriksaan hemoglobin merupakan petunjuk yang bagus untuk respon pengobatan besi dan dapat memperkirakan prevalensi anemia gizi besi pada darah dengan prevalensi tinggi. . Pencegahan dan Penanggulangan Anemia Gizi Besi. Upaya pencegahan dan penanggulangan anemia pada dasarnya adalah mengatasi penyebabnya. Pada anemia berat (kadar Hb<8g%) biasanya terdapat penyakit yang melatar belakangi yaitu antara lain penyakit TBC, infeksi cacingatau malaria, sehinga selain penanggulangan pada anemianya harus dilakukan pengobatan terhadap penyakit-penyakit tersebut . Upaya yang dilakukan untuk mencegah dan menanggulangi anemia akibat kekurangan zat besi antara lain dengan : a. Meningkatkan konsumsi zat besi dari sumber alami terutama makanan sumber hewani (heme-iron) yang mudah diserap seperti hati, ikan, daging dan lain-lain. Selain itu perlu ditingkatkan juga makanan yang banyak mengandung vitamin C dan vitamin A (buah-buahan dan sayur- sayuran) untuk membantu penyerapan zat besi dan membantu proses pembentukan Hb. b. Fortifikasi bahan makanan yaitu menambah zat besi, asam folat, vitamin A dan asam amino esensial pada bahan makanan yang dimakan secara luas oleh kelompok sasaran. Penambahan zat besi ini pada umumnya dilakukan pada bahan makanan hasil produksi industri pangan. c. Seplementasi besi folat secara rutin selama jangka waktu tertentu adalah untuk meningkatkan kadar hemoglobin secara cepat. Dengan demikian suplementasi zat besi hanya merupakan salah satu upaya pencegahan dan penangulangan anemia yang perlu diikuti dengan cara lain. Strategi penanggulangan anemia gizi secara tuntas hanya mungkin kalau intervensi dilakukan terhadap sebab langsung, tidak langsung maupun mendasar. Secara pokok strategi itu adalah sebagai berikut: a. Terhadap penyebab langsung: Penanggulangan anemia gizi perlu diarahkan agar: 1) Keluarga dan anggota keluarga yang resiko menderita anemia mendapat makanan yang cukup bergizi dengan biovallabilita yang cukup. 2) Pengobatan penyakit infeksi yang memberbesar resiko anemia. 3) Penyediaan pelayanan yang mudah dijangkau oleh keluarga yang memerlukan, dan tersedianya tablet tambah darah dalam jumlah yang sesuai. b. Terhadap penyebab tidak langsung: Perlu dilakukan usaha untuk meningkatkan perhatian dan kasih sayang didalam keluarga terhadap wanita, terutama terhadap ibu yang perhatian itu misalnya dapat tercermin dalam: 1) Penyediaan makanan yang sesuai dengan kebutuhannya, terutama ibu hamil. 2) Mendahulukan ibu hamil pada waktu makan. 3) Perhatian agar pekerjaan fisik disesuaikan dengan kondisi wanita/ibu hamil. c. Terhadap penyebab mendasar: Dalam jangka panjang, penanggulangan anemia gizi hanya dapat berlangsung secara tuntas bila penyebab mendasar terjadinya anemia juga ditanggulangi, misalnya melalui: 1) Usaha untuk meningkatkan pendidikan, terutama pendidikan wanita. 2) Usaha untuk memperbaiki upah, terutama karyawan rendah. 3) Usaha untuk meningkatkan status wanita di masyarakat. 4) Usaha untuk memperbaiki lingkungan fisik dan biologis, sehingga mendukung status kesehatan gizi masyarakat. Sumber : PENGARUH INTERAKSI, PENGETAHUAN DAN SIKAP TERHADAP PRAKTEK IBU DALAM PENCEGAHAN ANEMIA GIZI BESI BALITA DI KOTA PEKALONGAN TAHUN 2008 Oleh SRI SETYANINGSIH PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG TAHUN 2008

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar