Rabu, 08 April 2009

UPAYA PEMBERANTASAN PENYAKIT MALARIA

Oleh : Mahyuliansyah

Pembangunan kesehatan sebagai salah satu upaya pembangunan nasional diarahkan guna tercapainya kesadaran, kemauan, dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.
Derajat kesehatan merupakan hasil interaksi dari 4 faktor yaitu factor lingkungan, factor perilaku, factor pelayanan kesehatan dan factor keturunan (H.L, Blum, 1974). Salah satu indicator derajat kesehatan adalah angka kesakitan.
Di Indonesia, penyakit malaria masih merupakan salah satu masalah kesehatan yang masih perlu perhatian . Hal ini dimungkinkan masih adanya ditemukan penderita malaria yang tersebar di seluruh Indonesia. Angka kesakitan malaria di Indonesi pada tahun 2007 jumlah yang positif sudah mencapai 311.789 kasus (available from : www.inna-k.org/2008/12/depkes-kukuhkan-dua-profesor-riset.html)


Penyakit Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh protozoa parasit yang merupakan golongan Plasmodium, dimana proses penularannya melalui gigitan nyamuk Anopheles yang terkena infeksi. Protozoa parasit jenis ini banyak sekali tersebar di wilayah tropik, misalnya di Amerika, Asia dan Afrika.Penyakit ini bersifat musiman dan lokal (ada genangan air) dan dapat menyerang semua orang, semua golongan umur, dari bayi, anak-anak dan orang dewasa
Terdapat 4 type penyakit malaria, yaitu :
1. Malaria tropika (yang disebabkan oleh Plasmodium Falciparum)
2. Malaria tertiana (yang disebabkan oleh Plasmodium Vivax)
3. Malaria kwartana (yang disebabkan oleh Plasmodium Malarieae)
4. Malaria ovale (yang disebabkan oleh Plasmodium Ovale)
Di Indonseia ditemukan lebih banyak P.Vivax dan P.Falciparum. Plasmodium Vivax umumnya lebih dominan.
Gejala penyakit malaria :
1. Demam menggigil yang berkala dan biasanya disertai sakit kepala.
2. Penderita pucat karena kekurangan dara dan adanya pembesaran limpe, sering ditemukan pada penderita malaria.
3. Penderita malaria berat masih bertambah lagi dengan gejala gangguan kesadaran, kejang-kejang, diare sampai kehilangan kesadaran (koma).
4. Sebelum sakit penderita merasa lemah badan, sakit kepala, tidak nafsu makan, mual, muntah yang disertai perasaan dingin, demam kemudian berkeringat.
Untuk mengetahui dan memastiakan adanya penyakit malaria pada seseorang /diagnosa penyakit malaria yaitu dengan adanya tanda dan gejala yang dikeluhkan serta dapat dilihat secara klinis oleh tim kesehatan, maka akan segera dilakukan pemeriksaan laboratorium (khususnya pemeriksaan sedian darah) untuk memastikan penyebabnya dan diagnosa yang akan diberikan kepada penderita
Upaya pemberantasan penyakit malaria akan dilakukan peningkatan terhadap penemuan dan pengobatan penderita serta melakukan pemeriksaan sedian darah. Sedangkan untuk menghilangkan vector akan dilakukan pengontrolan terhadap nyamuk dewasa dengan melakukan penyemprotan dengan insektisida (secara kimiawi). Pemberantasan vector penyakit secara mekanis seperti penggunaan kelambu dan secara biologis dengan menggunakan ikan pemakan jentik.
Pencegahan penyakit malaria dapat juga dilakukan dengan Pembersihan Sarang Nyamuk (PSN), berusaha menghindarkan diri dari gigitan nyamuk, atau upaya pencegahan dengan pemberian obat Chloroquine bila mengunjungi daerah endemik malaria.
Pemberantasan penyakit malaria bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan serendah mungkin dan mencegah penyebarabn penyakit.
Penyuluhan kesehatan hendaknya diselenggarakan terus-menerus di tingkat desa untuk membimbing masyarakat mengenal malaria, mendorong segera mencari pengobatan bila terserang malaria dan menyadarkan pendududk bahwa penyakit malaria dapat dicegah dan diberantas.
Peranan dan tanggung jawab masyarakat dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit malaria perlu ditingkatkan antara lain dalam hal pelaksanaan upaya yang bersifat sederhana misalnya menggalakkan perilaku hidup bersih dan sehat, melapporkan kejadian penyakit malaria secepatnya.
Angka kesakitan malaria di wilayah kerja Puskesmas Amuntai Selatan pada tahun 2008 ditemukan penderita klinis 40 penderita dan dilakukan pemeriksaan sedian darah sebanyak 39 penderita, 19 penderita dinyatakan positif menderita malaria dengan perincian 16 penderita mengadung Plasmodium Falcifarum dan 3 penderita mengandung Plasmodium vivak Penderita laki-laki berjumlah 19 orang dan penderita perempuan tidak ditemukan. Lokasi ditemukannya penderita desa Simpang 4 berjumlah 9 penderita (8 dengan P.Falcifarum, 1 dengan P.Vivak), desa Harusan Telaga berjumlah 2 penderita (P.Falcifarum), desa Mamar 1 penderita (P.Falcifarum), desa Rukam Hulu berjumlah1 penderita (P.Falcifarum), desa Cangkering berjumlah 1 penderita (P.Falcifarum), desa Banyu Hirang berjumlah 1 penderita (P.Falcifarum), desa Padang Darat berjumlah 1 penderita (P.Falcifarum), desa Teluk Paring berjumlah 1 penderita (P.Falcifarum), desa Simpang 3 berjumlah 1 penderita (P.Vivak), desa Bajawit berjumlah 1 penderita (P.Vivak). Penemuan penderita rata-rata ditemukan pada setiap bulan dan terbanyak pada bulan Maret 2008 dengan 12 penderita, pada bulan Januari, Pebruari tidak ditemukan penderita. Tahun 2009 dari 5 penderita klinis yang diperiksa sedian darahnya terdapat 2 penderita dari desa Mamar positif P.Falcifarumm.
Sehubungan dengan adanya penderita malaria diwilayah kerja Puskesmas Amuntai Selatan Kabupaten Hulu Sungai Utara Provinsi Kalimantan Selatan telah dilakukan pemeriksaan sedian darah masayarakat di wialayah ditemukan penderita sebanyak 600 sedian darah dari 6 desa (Mamar, Rukam Hulu, Banyu Hirang, Murung Panggang, Teluk Paring, Padang Darat). Pelaksanaan pengambilan sample sedian darah dilakukan pada tanggal 6, 7, 8, 13, 14, 15 April 2009.

Selain itu dilakukan juga upaya pengontrolan vector nyamuk dewasa dengan melakukan penyemprotan insektisida pada wilayah yang terdapat penderita malaria tersebut. Penyemprotan dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Hulu Sungai Utara dengan di bantu Kader yang telah dilatih untuk melakukan penyemprotan.

Tindakan penyemprotan yang dilakukan bukan bertujuan memutuskan rantai penularan 100 % tetapi bersifat pengendalian saja. Oleh sebab itu perlu upaya lain yaitu pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara rutin misalnya seminggu sekali. Dalam hal ini peran serta masyarakatlah yang lebih dominan, petugas kesehatan hanya menganjurkan melalui penyuluhan baik langsung maupun melalui selebaran-anjuran yang dibagikan pada setiap desa.



Daftar Pustaka :

Depkes RI, 1992, Pedoman Kerja Puskesmas, Jakarta : Depkes RI
Depkes RI, 1997, Modul Pelatihan Tenaga Funsional Surveilans Puskesmas, Jakarta : Depkes RI
www.inna-k.org/2008/12/depkes-kukuhkan-dua-profesor-riset.html

1 komentar: