Minggu, 11 Oktober 2009

PROGRAM PENANGGULANGAN BUTA KATARAK PT ADARO INDONESIA

Pada tahun 2003, kenyataan menunjukkan bahwa terjadi backlog atau penumpukan penderita katarak di wilayah KabupatenTabalong, Hulu Sungai Utara (sekarang terbagi dengan kabupaten Balangan), dan Barito Selatan (sekarang juga terbagi dengan Kabupaten Barito Timur). Kabupaten-kabupaten tersebut merupakan wilayah operasional PT Adaro Indonesia.
Backlog itu diantaranya disebabkan oleh masalah ekonomi, keterbatasnya informasi, fasilitas, dan sumber daya pendukungnya seperti tidak adanya dokter spesialis mata. Sebagian besar penderita katarak adalah dari kelompok masyarakat tidak mampu yang pada umumnya menerima kebutaan sebagai sebuah "takdir abadi" yanq tak tersembuhkan. Padahal berdasarkan penelitian, katarak merupakan penyumbang terbesar bagi penyakit kebutaan di masyarakat yang sebetulnya bisa disembuhkan. Itu .adalah soal kemauan, keterbukaan, dan yang utama adalah dana.


Berangkat dari situ, maka dibuatlah kesepakatan bersama (MoU) Program Penanggulangan Buta Katarak antara PT Adaro Indonesia, Yayasan Kemanusiaan Indonesia (YKI), dan Pemerintah Kabupaten Tabalong, H,S U, dan BarseI. Inti kesepakatan ; pertama bahwa Dinas Kesehatan masing-masing bertanggung jawab dalam hal sosialisasi dan penjaringan pasien. Kedua PT Adaro Indonesia bertanggung jawab dalam hal pendanaan seluruh biaya operasi dan pengobatan. Terakhir, sedang YKI Bali adalah konsultan teknis yang diantaranya bertanggung jawab terhadap penyediaan dokter spesialis.
Jumlah penderita yang telah dilayani melalui Program Penanggulangan Buta Katarak pada tahun 2003 sebanyak 623 orang, tahun 2004 sebanyak 816 orang, tahun 2005 ada 494 orang, tahun 2006 sebanyak 601 orang, tahun 2007 sebanyak 533 orang, dan sebanyak 353 orang di tahun 2008, dan pada tahun 2009 hingga bulan April berjumlah 60 orang.
Program ini memberikan manfaat yang sangat besar bagi masyarakat. Penderita ka tarak sebagian besarnya adalah mereka yang berusia di atas lima puluh tahun. Banyak para manula penderita katarak yang hidup sendirian dalam kemiskinan mendapatkan kembali semangat hidupnya karena sudah dapat melihat lagi. Di bawah ini ada beberapa kisah penderita yang telah berhasil dilakukakan operasi katarak :
1. Kakek Jenglor, siapa yang tidak kenal dengan beliau ? warga kecamatan paringin kabupaten Balangan Pasti dengan cepat menunjuk orangnya bila ditanya sosok beliau. Meluruskan kembali urat yang terkilir, atau lemas dan terserang panas karena keletihan, beliaulah obat hidup bagi warga sekitar. Keahlian yang didapatkan secara turun temurun itu, membuat sang kakek sering diminta tolong. Dalam sehari, beliaupun sering keluar masuk rumah warga. Kakek Jenglor tidak pernah keberatan dipanggil untuk dimintai jasanya Itu, cerita lalu, Lalu sekali. Sejak katarak menutupi bola matanya, berbagai panggilan tidak lagi mampu dipenuhinya. Pandangannya tampak kabur sekali. Jangankan berjalan jauh, sekedar menatap wajah keluarganyapun tak lagi ia mampu. Bagi pelanggan yang sudi datang masih tetap ia terima, tapi pelanggannya jauh sekali berkurang, sisa tuanyapun banyak bertemankan gelap dan sunyi. Kini beliau bersedia kembali mendatangi rumah pelanggan karena dapat melihat kemabali.
2. Ny. Timah di Desa Masukau Kecamatan Murung Pudak Kabupaten Tabalong misalnya, di masa tua tampa anak dan tingal sendiri di rumah peninggalan mendiang suaminya bukanlah hal yang baik, terlebih jika sedang sakit. Sempat mengalami kebutaan karena katarak, saat itu Ny.Timah merasa sangat terbantu dengan masih adanya keponakan yang menemani di rumah, membantu menjalani hidup sehari-hari. ”Amat sulit tidak dapat melihat !” katanya, jika saya memerlukan sesuatu, kadang saya harus menunggu bantuan Ani keponakan saya” kenangnya. Ibu Timah merasa bersyukur karena ikut serta dalam operasi katarak tahun 2003 beberapa bulan sebelum Ani dipinang dan pergi mengikuti suaminya pindah ke Kalimantan Timur. Kini ibu Timah menjadi sangat produktif dengan berjualan di lokasi sekolah dasar.
3. Tidak jauh dari kediaman ibu Timah ada juga Ny Siah yang kembali giat menyadap pohon karet, walau cuma sebagai tenaga upahan.
4. Ibu Mantan, 76 tahun. Kesenderian, itulah kehidupan sehari-hari Ibu Mantan setelah suaminya, seorang mantan TNI AD meninggal dunia dan putera satu-satunya yang bertugas di Papua dinyatakan hilang dalam tugas dan tidak pernah ditemukan kembali. Tinggal disebuah gubug disamping Perumnas Kalahang, Ibu Mantan menyambung hidupnya dengan cara memelihar beberapa ekor ayam kampung. Enam tahun yang llu hidup yang memang telah sulit menjadi bertambah sulit setelah dirinya kehilangan penglihatan di kedua matanya. Dirinya cukup beruntung karena memiliki tetangga yang sangat baik dan selalu peduli, bahkan membrinya makanan sehingga beliau dapat bertahan hidup. ”Aku masih bagaduh hayam, walau rancak rabah taranjah kandang atau tihang” (Aku masih memelihara ayam walaupun sering jatuh, menabrak pagar tau tiang) ujar Ibu Mantan. Ibu Manta mengikuti operasi katarak gratis sebanyakk dua kali pada tanggal 29 Desember 2004 dan 9 Juni 2005 keduanya diadakan di Puskesmas Hikun, Kecamatan Tangjung. Kini, tak kalah hebatnya tanpa harus menabrak- nabrak lagi - kini sudah memiliki banyak ternak ayam dan itik di sekeliling rumah.
Banyak contoh lain yang dapat disampaikan di sini. Akan tetapi pada dasarnya, jika anda miskin, buta, apalagi sendirian , maka kadang hanya ada dua narapan yang tersisa, segera pergi meninggalkan kehidupan fana ini, atau sebuah miracle berupa uluran tangan yang membantu kearah kesembuhan. Ketika seseorang pernah merasakan gelapnya kehidupan, sungguh, terang adalah nikmat yang tak dapat dilukiskan indahnya. Mengenang kenikmatan dalam kepahitan, tanpa ketabahan hanyalah beban derita yang berat. Doa mereka yang ada di wilayah operasional PT Adaro Indonesia, membuat Allah Swt membuka jalan lain. Program katarakpun kini mampu membebaskan lebih dari 3.100 penderitaf. Mereka sebanyak itu kini mampu melihat kembali. Kalimat syukurpun kian kuat dihembuskan. Tidak hanya oleh kakek Jenglor, tapi bagi lainnya pula.
Katarak bagi kakek Jenglor dan sebagain besar kalangan sepuh adalah yang banyak merampas sisa kehidupan mereka. Aktivitas mereka menjadi amat tersandera. Pada akhirnya kenikmatan sisa tua yang sudah banyak berkurang kian membelenggu penderita katarak, tidak hanya bagi kakek Jenglor.namun juga ribuan penderita lainnya.



Sumber :

1. Program Penanggulangan Buta katarak, Menebar Kasih, Menggapai Asa, Risman/Fajerianur, Buletim Envirocoal Edisi XIII Tahun 2009, PT.Adaro Indonesia.
2. Indahnya Terang, “Tidak Semua Orang Prnah Melihat Indahnya Pelangi”,Greg n Trees, PT Adaro Indonesia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar