Senin, 04 Mei 2009

PEMANTAUAN JENTIK NYAMUK DEMAN BERDARAH DENGUE

Oleh : Mahyuliansyah

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Penyakit ini termasuk penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti maupun Aedes albopictus. Aedes aegypti lebih berperan dalam penularan penyakit ini, karena hidupnya di dalam dan di sekitar rumah, sedangkan Aedes albopictus di kebun, sehingga lebih jarang kontak dengan manusia (Depkes RI , 1992 ). Timbulnya mendadak dan banyak mengakibatkan kematian bagi penderitanya, sehingga tidak mengherankan bila adanya penyakit ini menimbulkan keresahan bagi masyarakat
Wabah pertama terjadi pada tahun 1780 – an secara bersama di Asia, Afrika dan Amerika Utara. Penyakit ini kemudian dikenali dan dinamai pada 1779. Wabah besar global dimulai di Asia Tenggara pada 1950 –an dan hingga 1975. Penyakit DBD muncul pertama kali pada tahun 1953 di Filipina, di Indonesia dilaporkan pertama kali tahun 1968 di Surabaya dengan jumlah kasus 58 orang, 24 dian taranya meninggal (CFR = 41,32).


Penyakit. Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan lingkungan yang cenderung meningkat jumlah penderita dan semakin luas daerah penyebarannya, sejalan dengan meningkatnya mobilitas dan kepadatan penduduk
Sampai saat ini penyakit DBD belum ada vaksin pencegahnya dan obatnyapun juga masih diusahakan. Satu-satunya cara efektif adalah mencegah dan menanggulanginya dengan cara memberantas nyamuk penularnya.
Nyamuk Aedes Aeggepti berkembang biak di tempat penampungan air bersih seperti bak mandi, tempayan, ban bekas, kaleng bekas dan lain-lain. Nyamuk ini mampu hidup pada ketinggian sampai 1000 m dari permukaa laut, suka hidup didaratan rendah yang berpenghuni padat. Dari telur hingga dewasa mencapai kurang lebih 12 hari. Menggigit pada pagi dan sore hari. Jarak terbang maksimal 100 m. Nyamuk jantan hidup mencapai 30 hari yang betina mencapai 3 bulan. Nyamuk jantan menghisap sari buah-buahan, naymuk betina menghisap darah manusia untuk mematangkan telurnya.
Setelah nyamuk betina menggigit orang sakit DBD, 7 hari kemudian virus DBD dalam tubuhnya telah matang dan siap ditularkan kepada orang lain melalui gigitannya. Nyamuk betina infektif dapat menularkan virus DBD seumur hidupnya.
Untuk membunuh nyamuk DBD ini ada beberapa cara, yaitu secara mekanisme, biologis dan kimia. Pemberantasan nyamuk Demam Berdarah akan lebih efektif jika dilakukan pemeriksaan jentik berkala (PJB) yang dilakukan oleh petugas Puskesmas disemua desa non endemis sekaligus memberikan abate pada penampungan air yang ada jentiknya.. Peran serta mayarakat dalam pemberantasan sarang nyamuk digerakkan lebih giat melalui penyuluhan-penyuluhan.
Keberadaan jentik Aedes aegypti di suatu daerah merupakan indikator terdapatnya populasi nyamuk Aedes aegypti di daerah tersebut. Untuk itu perlu dilakukan upaya Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB). Sebelum dilakukan PJB seorang petugas seharusnya mengenali apa itu telor, jentik dan kepompong dari naymuk aedes aegypti.
Telur
Setiap kali bertelur, nyamuk betina dapat mengeluarkan telur sebanyak 100 butir, telur nyamuk Aedes aegypti berwarna hitam dengan ukuran + 0,80 mm. Telur ini di tempat yang kering dapat bertahan sampai 6 bulan. Telur akan menetas menjadi jentik dalam waktu + 2 hari setelah terendam air.
Jentik
Jentik kecil yang menetas dari telur akan tumbuh menjadi besar, panjangnya 0 –1 cm. Jentik nyamuk Aedes aegypti selalu bergerak aktif dalam air. Gerakannya berulang-ulang dari bawah ke atas permukaan air untuk bernafas, kemudian turun kembali ke bawah untuk mencari makanan dan seterusnya. Pada waktu istirahat, posisinya hampir tegak lurus dengan permukaan air. Biasanya berada di sekitar dinding tempat penampungan air. Setelah 6-8 hari jentik itu akan berkembang/berubah menjadi kepompong.
Kepompong
Bentuk seperti koma, gerakannya lamban, sering berada dipermukaan air. Setelah 1 – 2 hari akan menjadi nyamuk baru
Cara Melakukan Pemeriksaan Jentik
• Periksalah bak mandi/WC, tempayan, drum dan tempat-tempat penampungan air lainnya.
• Jika tidak tampak, tunggu + 0,5-1 menit, jika ada jentik, ia akan muncul kepermukaan air untuk bernafas
• Ditempat yang gelap gunakan senter
• Periksa juga vas bunga, tempat minum burung, kaleng-kaleng bekas/plastik, ban bekas, dll.
Jentik-jentik yang ditemukan ditempat-tempat penampungan ait yang tidak beralaskan tanah (Bak mandi/WC, drum, tempayan dan sampah-sampah/barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan) dapat dipastikan bahwa jentik tersebut adalah jentik nyamuk Aedes aegypti penular penyakit DBD.
Cara Mencatat Hasil Pemeriksaan Jentik
• Tulis nama desa/kelurahan yang akan dilakukan pemeriksaan jentik, dan tanggal pemeriksaan/survei
• Tulis nama keluarga dan alamatnya (RT/RW) pada kolom yang tersedia
• Hitung jumlah conteiner yg ada air, kemudian hitung yg terdapat jentik pd kolom yg telah ditentukan
• Hitung jumlah seluruh conteiner yang terdapat jentik pada kolom yang telah ditentukan
• Tulislah hal-hal yang perlu diterangkan pada kolom keterangan seperti : rumah/kavling kosong, penampungan air hujan, dll.

DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. (1992). Petunjuk Teknis Pemberantasan Nyamuk Penular Penyakit Demam Berdarah Dengue . Jakarta : Dirjen PPM dan PLP.

Depkes RI. (1992). Petunjuk Teknis Pengamatan Penyakit Demam Berdarah Dengue. Jakarta :Dirjen PPM dan PLP.

Depkes RI. (1996). Modul Latihan Kader Dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue . Jakarta : Dirjen PPM dan PLP.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar