Rabu, 06 Mei 2009

PRESTASI BELAJAR DAN MEDIA PEMBELAJARAN

Oleh : Nor Alimah .S.Pd

A. PENDAHULUAN


Proses pembelajaran yang menyenangkan dapat menimbulkan sikap positif terhadap mata pelajaran sehingga peserta didik tidak takut berbicara. Maka tugas guru adalah merancang berbagai kegiatan yang memudahkan peningkatan kemampuan dan kreativitas siswa dalam berinteraksi dengan siswa dan guru. Dalam Interaksi dimaksud, keaktifan para siswa harus selalu diciptakan, mengingat bahwa siswa bukan hanya sebagai obyek, akan tetapi sekaligus sebagai subyek dalam proses pendidikan.
Untuk keperluan dimaksud, guru dapat menggunakan berbagai macam strategi, misalnya dengan menggunakan metode mengajar yang bervariasi sesuai dengan materi pelajaran yang diajarkan.
Satu hal yang perlu dicermati, bahwa guru hendaknya dapat menciptakan situasi yang mendorong siswa untuk bertanya, mengamati, mengadakan eksprimen, serta menemukan fakta dan konsep yang benar. Oleh karena itu, dalam kegiatan belajar guru harus menggunakan multi metode dan para siswa yang belajar menggunakan multi media sehingga terjadi suasana belajar sambil bekerja, belajar dengan mendengar, dan belajar sambil bermain, sesuai dengan konteks materinya.
Dalam melaksanakan proses belajar mengajar, khususnya dalam penanaman kreativitas dan konsep tertentu, para guru hendaknya terampil menggunakan media pemebelajaran yang relevan. Dengan penggunaan media diharapkan siswa SD akan lebih aktif, kreatif, dan sistem belajar mengajar lebih interaktif. Selain itu dengan penggunaan media diharapkan siswa lebih cepat dalam memahami materi dan menyimpannya dalam ingatan dibandingkan melalui buku..
Dalam penggunaan media, guru yang kreatif tidak akan terpaku pada media yang sudah tersedia, tetapi akan berusaha mencari alternatif lain. Dengan demikian proses pembelajaran tidak terkesan monoton, tetapi menjadi lebih dinamis.



B. PRESTASI BELAJAR

Prestasi belajar merupakan suatu rangkaian penilaian atas hasil aktivitas belajar dalam kegiatan pengajaran pada waktu tertentu, baik berupa pengukuran kuantitatif maupun kualutatif.
Prestasi belajar terdiri dari kata presatasi dan belajar. Prestasi adalah apa yang telah dapat diperoleh dengan jalan keuletan bekerja atau hasil karya yang dicapai (Habeyb, S.F, 1983 : 296). Sedangkan belajar menurut Drs.Slameto adalah suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
James O. Whittaker, merumuskan belajar sebagai proses di mana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.
Cronbach berpendapat bahawa learning is shown by change in behavior as a result of experience. Belajar sebagai suatu aktivitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.
Dari beberapa pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa prestasi belajar adalah suatu hasil yang diperoleh dalam aktivitas belajar baik berupa penilaian angka-angka (kuantitatif) maupun penilaian kata-kata (kualitatif) pada waktu tertentu.
Prestasi sebagai hasil belajar merupakan salah satu unsur interaksi belajar mengajar yang harus dimiliki sekaligus untuk membangkitkan gairah belajar dengan mengoptimalkan seluruh potensi yang dimilikinya. Jadi hubungan antara prestasi dengan belajar adalah secara sederhana dapat dikatakan dengan berusaha atau belajar akan didapatkan hasil yang akan dicapai sesuai dari usaha belajarnya atau dengan kata lain prestasi merupakan hasil dari upaya belajar sedangkan belajar merupakan salah satu bentuk kegiatan untuk mendapatkan prestasi yang lebih baik.

C. MEDIA PEMBELAJARAN
Menurut Heinich, dkk (1982) kata “MEDIA” merupakan bentuk jamak dari kata “MEDIUM” (bahasa latin) yang secara harfiah berarti “PERANTARA” (between) yaitu perantara sumber pesan (source) dengan penerima pesan (receiver). Dalam proses pembelajaran, media ini dapat diartikan sebagai berikut :
a. Teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran (Schramm,1977).
b. Sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti buku, film, video, slide dan sebagainya (Bringgs, 1977).
c. Sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang dengar, termasuk teknologi perangkat kerasnya (NEA, 1969).
Dengan memperhatikan beberapa pengertian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa media pembelajaran merupakan wahana dari pesan atau informasi yang oleh sumber pesan (guru) yang ingin diteruskan kepada penerima pesan (siswa) dengan maksud agar pesan-pesan tersebut dapat diserap dengan cepat dan tepat sesuai dengan tujuannya. Pesan atau bahan ajar yang disampaikan adalah pesan/materi pembelajaran. Tujuan yang ingin dicapai adalah terjadinya proses belajar pada diri siswa.
Media pembelajaran yang dirancang dengan baik dapat merangsang timbulnya proses/dialog mental pada diri siswa. Dengan perkataan lain, terjadinya komunikasi antara siswa dengan media atau secara tidak langsung tentunya antara siswa dengan penyalur pesan (guru), dengan demikian kita dapat mengatakan bahwa proses belajar-mengajar telah terjadi. Media pembelajaran tersebut berhasil menyalurkan pesan/bahan ajar apabila kemudian terjadi perubahan tingkah laku (behavioral change) pada diri siswa.
Media dapat juga diartikan sebagai sesuatu yang dapat digunakan untuk merangsang pikiran, perhatian dan kemauan murid, sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada murid-murid yang bersangkutan. Berdasarkan kenyataan di atas, media belajar memiliki peranan yang begitu penting. Dalam batas-batas tertentu media dapat menggantikan posisi guru sebagai sumber belajar. Nilai-nilai praktis dari media belajar antara lain sebagai berikut :
a. Dapat mengkongkritkan konsep yang abstrak.
b. Dapat menjelaskan objeck yang berbahaya.
c. Dapat menampilkan objek yang terlalu besar atau terlalu kecil.
d. Dapat digunakan untuk mengamati gerak yang terlalu cepat.
e. Dapat membangkitkan motivasi belajar bagi para murid.
f. Dapat digunakan untuk menyajikan informasi belajar secara cepat, dan sebagainya.
Banyak temuan penelitian yang mengungkapkan keandalan media pembelajaran, diantaranya yang dilakukan oleh British Audio-Visual Assosiation bahwa rata-rata jumlah informasi yang diperoleh seseorang melalui idera menunjukkan komposisi sebagai berikut :
a. Melalui indera penglihata (visual ) mencapai 75 %
b. Melalui indera pendengaran (auditori) mencapai 13 %.
c. Melalui indera sentuhan dan perabaan mencapai 6 %
d. Melalui indera penciuman dan lidah mencapai 6 %.
Dari hasil temuan ini dapat diketahui bahwa pengetahuan seseorang paling banyak diperoleh secara visual atau melalui indera penglihatan, padahal umumnya kita masih menganut pembelajaran secara verbal dengan mengandalkan indera pendengaran. Kondisi ini tentu saja kurang menguntungkan dalam pencapaian tujuan pembelajaran.
Dengan adanya berbagai macam media yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran, maka media pembelajaran dapat dikelompokkan menurut jenis dan karakteristiknya sebagai berikut :
a. Media Visual, meliputi media visual tidak diproyeksikan (gambar mati, media grafis, realia dan model), media visual yang diproyeksikan (OHP, slides, filmstrips, power point)
b. Media Audio, seperti program kaset suara dan program radio.
c. Media Audio Visual, meliputi program video/telivisi dan program slide suara (soundsslide).

D. MEDIA VISUAL
Sesuai dengan namanya, media visual adalah media yang hanya dapat dilihat dengan menggunakan indera penglihatan. Jenis media inilah yang sering digunakan oleh guru-guru untuk membantu menyampaikan isi atau materi pelajaran. Media visual ini terdiri atas media yang tidak dapat diproyeksikan (non-projected visuals) dan media yang dapat diproyeksikan (projected visuals). Pada pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan media yang digunakan dibatasi hanya pada media visual yang tidak dapat diproyeksikan berupa gambar diam/mati (still picture)
Gambar diam/mati ini adalah gambar-gambar yang disajikan secara fotografik atau seperti fotografik, misalnya gambar tentang manusia, binatang, tempat atau objek lainnya yang ada kaitannya dengan bahan/isi pelajaran yang disampaikan pada siswa. Gambar diam ini ada yang tunggal dan ada juga yang berseri, yaitu sekumpulan gambar diam yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya.
Media gambar yang dumaksudkan bertujuan untuk mengenalkan nama-nama dalam pembelajaran. Gambar-gambar tersebut dapat dijadikan alat bantu untuk memahami topik pembelajaran. Disamping itu, gambar-gambar tersebut juga dapat ditujukan untuk menstimulasi kegiatan berbicara dan menulis permulaan.
Wujud media gambar ini berukuran kecil 5 X 5 cm dan besar 20 X 20 cm. Ada yang memiliki warna asli sesuai dengan warna benda nyatanya dan ada yang hanya hitam putih saja.
Gambar-gambar benda tersebut dapat diklasifikasikan sesuai dengan jenisnya, misalnya klasifikasi binatang piaraan, klasifikasi alat tulis, klasifikasi mebeler dan lain-lain. Apabila diperlukan penampilan gambar masing-masing klasifikasi maka dapat ditempatkan dalam kotak. Selanjutnya semuanya akan ditampung dalam satu kotak besar, yang di dalamnya terdapat kotak-kotak kecil.
Adapun kegunaan media gambar benda dapat digunakan untuk mendukung kegiatan-kegiatan berikut :
a. Pengenalan nama-nama benda mati dan benda hidup dalam bahasa Inggris, diiringi dengan ucapan guru dan bisa juga bersama tulisannya.
b. Pengulangan pembelajaran nama-nama tersebut lewat permainan.
c. Menciptakan suasana yang menarik dalam kelas.
Keuntungan yang dapat diperoleh dengan menggunakan media gambar diam ini, yaitu :
a. Dapat menterjemahkan ide/gagasan yang sifatnya abstrak menjadi realistik.
b. Banyak tersedia dalam buku-buku, majalah, surat kabar, kalender dansebaginya.
c. Mudah menggunakannya dan tidak memerlukan peralatan lain.
d. Tidak mahal, bahkan mungkin tanpa biaya
e. Dapat digunakan pada setiap tahap pembelajaran dan semua pelajaran/disiplin ilmu.
Sedangkan keterbatasan dari media gambar diam ini terkadang ukuran gambarnya terlalu kecil jika digunakan dalam satu kelas, hanya berupa dua dimensi dan tida bisa menimbulkan kesan gerak.

E. PENUTUP
Secara umum dari beberapa fungsi media pembelajaran dapat mempercepat proses belajar. Fungsi ini mengandung arti bahwa dengan media pembelajaran siswa dapat menangkap tujuan dan bahan ajar lebih mudah dan dan lebih cepat. Fungsi lain yaitu untuk meningkatkan kualitas proses belajar-mengajar. Pada umumnya hasil belajar atau prestasi belajar siswa dengan menggunkan media pembelajaran dan salah satunya dengan media gambar akan tahan lama mengendap sehingga kualitas pembelajaran memiliki nilai yang tinggi. Media pembelajaran juga dapat meletakkan dasar-dasar yang konkret untuk berfikir secara lebih realistik.
Jadi jelaslah untuk mencapai prestasi belajar anak diperlukan penggunaan metode dan media pembelajaran oleh guru. Semakin seimbang perpaduannya maka akan meningkatkan situasi yang kondusif dalam mempertinggi prestasi belajar anak. Untuk itu dapat disimpulkan bahwa penggunaan media yang efektif dalam proses belajar anak memiliki keterkaitan dalam menarik minat dan perhatian anak belajar sehingga memperoleh prestasi belajar yang optimal



DAFTAR PUSTAKA

Azis, Munir A, Drs.,(1994). Program Peningkatan Mutu Pendidikan di Sekolah dasar, MUTU Media Komunikasi dan Informasi peningkatan mutu pendidikan dasar, Vol III No.01 Edisi April-Jun 1994, halaman 16 – 25

Budiah, Dra.,(1994). Prinsip-Prinsip Proses Belajar Mengajar, MUTU Media Komunikasi dan Informasi peningkatan mutu pendidikan dasar, Vol III No.01 Edisi April-Jun 1994, halaman 31 – 34, dan 44

Candra, I Gede, Drs., (1997). Sosok Guru Yang Profesional dalam Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan, MUTU Media Komunikasi dan Informasi peningkatan mutu pendidikan dasar, Vol VI No.02 Edisi Julil-September 1997, halaman 40 - 44


Habeyb, S.F.(1983). Kamus Populer. Jakarta : Centra.


Murniati, S.Pd., (1997). Kreativitas Guru Dalam meningkatkan Sumberdaya Manusia yang Berkualitas, MUTU Media Komunikasi dan Informasi peningkatan mutu pendidikan dasar, Vol VI No.02 Edisi Julil-September 1997, halaman13 -16


Roestiyah N.K, Dra.,(2001). Strategi Belajar Mengajar.Jakarta : PT Rineka Cipta.


Supardjo, M.Ed, Drs, dkk.(2003). Penggunaan Media dalam Pembelajaran Bahasa Inggris. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional.

Winataputra, MA, H. Udin, Drs, dkk.(1997). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Departemen .Pendidikan dan Kebudayaan.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar