Sabtu, 17 April 2010

Anemia Pada Kehamilan

Definisi
Anemia adalah keadaan dimana kadar zat merah darah atau haemoglobin (Hb) lebih rendah dari nilai normal (Beck, 1996). Anemia dalam kehamilan ialah kondisi ibu dengan haemoglobin dibawah 11 g % pada trimester 1 dan 3 atau kadar kurang dari 10,59 g % pada trimester 2 (Sarwono, 2002).
Anemia adalah pengurangan jumlah sel darah merah, kuantitas hemoglobin dan volume pada sel darah merah (hemotokrit) per 10 ml darah (Sylvia Anderson, 1994). Anemia lebih sering dijumpai dalam kehamilan hal ini di sebabkan karena dalam kehamilan keperluan akan zat-zat makanan bertambah dan terjadi pula perubahan dalam darah dan sum-sum tulang.
Berdasarkan penyelidikan di Jakarta anemia dalam kehamilan dapat dibagi menjadi (Sarwono, 2002).

Anemia defisiensin besi 62,3 % (kekurangan zat besi),
Anemia megaloblastik 29,0 % (kekurangan vitamin B12)
Anemia hipoplastik 8,0 % (pemecahan sel-sel darah lebih cepat dari pembentuk)
Anemia hemolitik 0,7 % (gangguan pembentukan sels-sel darah)
Anemia defisiensi besi adalah dimana keadaan kadar haemoglobin hemotokrit dan sel darah merah lebih rendah dari normal sebagai akibat dari defiseinsi salah satu atau beberapa unsur makanan yang esensial yang dapat mempengaruhi timbulnya defisiensi tersebut (Arisman, 2004). Yaitu kerusakan produksi sel darah merah yang diakibatkan dari penurunan jumlah zar besi yang disimpan di dalam tubuh yang diperlukan untuk sintesis Hb (Ester Monica, 1998).
Defisiensi besi merupakan penyebab utama anemia gizi dibanding defisiensi zat gizi lain, seperti asam folat, vitamn B12, protein, vitamin dan trace elemen lainnya (Wirakusuma S. Emma, 1999)
Anemia gizi besi bisa berakibat buruk bagi penderitanya, terutama bagi golongan rawan gizi, yaitu anak balita, anak sekolah, wanita hamil dan menyusui, serta terutama yang berpenghasilan rendah. Anak yang terkena anemia gizi akan terganggu pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasannya juga terhambat. Selain itu, aktifitas fisiknya juga akan menurun. Pada ibu anemia gizi mengakibatkan kerawanan saat melahirkan, perdarahan, berat bayi rendah, bahkan dapat menyebabkan kematian bagi ibu dan anak. Sedangkan pada ibu menyusui, kualitas air susu rendah dan jumlah berkurang. (Wirakusuma S. Emma, 199 ; 5)
Wanita memerlukan zat besi lebih tinggi dari laki-laki karena terjadi menstruasi dengan perdarahan sebanyak 50 – 80 cc setiap bulan dan kehilangan zat besi sebesar 30-40 mg disamping itu kehamilan memerlukan tambahan zat besi untuk meningkatkan jumlah sel darah merah dan membentuk sel darah merah janin dan plasenta, makin sering seorang wanita mengalami kehamilan dan melahirkan akan makin banyak kehilangan zat besi dan menjadi makin anemis. Sebagia gambaran berapa banyak kebutuhan pada setiap kehamilan :
Meningkatkan sel darah ibu 500 mgr Fe
Terdapat dalam plasenta 300 mgr Fe
Untuk darah janin 100 mgr Fe

Jumlah 900 mgr Fe

Klasifikasi Anemia
Anemia dapat diklasifikasi menurut morfologi sel darah merah yaitu sebagai berikut :
1. Amenia normositik normokrom
Dimana ukuran dan bentuk –bentuk sel- sel darah merah normal serta mengandung haemaglobin dalam jumlah yang normal tetapi individu menderita anemia. Penyebabkan adalah kehilangan darah akut, hemolisis, penyakit kronik termasuk infeksi, gangguan endokrin, gangguan ginjal, kegagalan sum-sum.
2. Anemia makrositik normokrom
Berarti ukuran sel-sel darah merah lebih besar dari normal tetapi normokrom karena konsetrasi haemoglobinnya normal. Hal ini disebabkan oleh gangguan atau terhentinya sintesis asam nukleat DNA seperti pada defisiensi B12 dan atau asam folat serta kemoterapi kanker.
3. Hipokrom Anemia mikrositik
Hipokrom berarti mengandung haemoglobin dalam jumlah yang kurang dari nomal. Hal ini umumnya menggambarkan insufisiensi sintesis hem (besi) seperti pada anemia defisiensi besi, kehilangan darah kronik atau gangguan sistesis globin seperti pada talasemia (Sylvia Anderson, 1994).
2.2.3 Tanda dan gejala anemia
Tanda dan gejala anemia defisiensi besi biasanya tidak khas dan sering tidak jelas seperti: pucat, mudah lelah, lesu, berdebar, takikardi, dan sesak nafas. Kepucatan bisa diperiksa pada telapak tangan, kuku, dan konjungtiva palpebra. Jika keadaan berlangsung lama dan berat akan terjadi stomatitis angualaris, glositis dan koinolikia (keadaan kuku yang cekung seperti sendok) Tanda yang khas meliputi anemia, angular stomatitis, glositis, disfagia (tidak bisa menelan), hipoklorida, koinolikia dan pagofagia. Tanda yang kurang khas berupa kelelahan, anoreksia, kepekaan terhadap infeksi meningkat, kelainan perilaku tertentu, kinerja intelektual serta kemampuan kerja menyusut. (Arisman, 2004)

Penyebab terjadinya anemia
1) Tidak cukup zat besi dalam makanan
Menurut Depkes RI 1998 apabila makanan yang dikonsumsi setiap hari tidak cukup banyak mengandung zat besi atau absorpsinya rendah, maka kertersediaan zat besi untuk tubuh tidak cukup memenuhi kebutuhan akan zat besi. Karena didalam tubuh manusia zat besi mempunyai fungsi yang berhubungan dengan pengangkutan, penyimpanan dan pemanfaatan oksigen dan berada dalam bentuk haemoglobin, myoglobin dan eytochrom, sebagian besar zat besi yang digunakan untuk pembentukan haemoglobin berasal dari pemanfaatan kembali hasil pemecahan sel darah merah, sedang kekurangannya diperoleh dari makanan yang dimakan. Kebutuhan zat besi sehari-hasri dimaksudkan sebagai pengganti yang dikeluarkan tubuh melalui kulit, keringat, tinja, air seni dan rambut yang besarnya sekitar 0,5-1,0 mg (Mery E Beck, 1993).
2) Bertambah kebutuhan
Menurut Depkes (1998) pada waktu hamil kurang lebih 500 mg zat besi diperlukan sebagai tambahan dari kebutuhan biasa pada sebelum hamil. Jika jumlah ini tidak terpenuhi dari makanan atau tidak diberikan suplemen zat besi pada waktu hamil kemungkinan besar yang bersangkutan akan menderita anemia (Hana, dalam majalah keperawatan UNPAD, 2001). Kebutuhan akan zat besi selama hamil meningkat untuk memasok kebutuhan janin tumbuh (pertumbuhan janin memerlukan banyak sekali zat besi). Pertumbuhan plasenta dan peningkatan volume darah ibu (Arisman, 2004)
3) Kehilangan darah
Sepanjang usia reproduktif wanita akan kehilangan darah akibat haid, jumlah darah yang hilang selama satu periode haid berkisar antara 20-25 cc. Jumlah ini mengakibatkan kehilangan zat besi sebesar 12,5-15 mg/bulan atau kira-kira sama dengan 0,4-0,5 mg sehari. Jika jumlah tersebut ditambah dengan kehilangan basal jumlah total zat besi yang hilang sebesar 1,25 mg/hari (Arisman, 2004). Pada perjalanan penyakit yang menyebabkan kehilangan darah seperti abortus, kehamilan etopik, juga terjadi kehilangan haemoglobin yang dapat mengakibatkan anemia (Erica Royston, 1994).
4) Malnutrisi
Banyak berpantang makanan tertentu selagi hamil dapat memperburuk keadaan anemia gizi besi. Biasanya ibu hamil enggan makan daging, ikan, hati dan pangan hewani lainnya. Padahal pangan hewani merupakan sumber zat besi yang tinggi absorpsinya (Emma, 1999). Malnutirisi adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak memenuhi angka kebutuhan gizi (FKUI, 2000)
Faktor utama yang menjadi penyebab terjadinya anemia gizi besi adalah kurangnya konsumsi zat besi yang berasal dari makanan atau rendahnya absorpsi zat besi yang ada dalam makanan. Ketersediaan zat besi dari makanan yang tidak mencukupi kebutuhan tubuh akan mengakibatkan tubuh mengalami anemia gizi besi (Emma, 1999)
5) Penyakit – penyakit kronik seperti malaria, penyakit sel sabit, infeksi bakteri, parasit usus atau cacing tambang.
Pada malaria dan penyakit sel sabit sel darah merah dihancurkan lebih cepat daripada kemampuan tubuh untuk menggantinya. Sedangkan pada infeksi bakteri fungsi sum-sum tulang yang normal tertekan sehingga walaupun terhadap semua zat makanan yang relevan dalam tubuh, pembentukan haemoglobin tidak terjadi sampai infeksi dapat dikendalikan (Erica Royston, 1994). Sedangkan darah yang hilang akibat infestasi cacing tambang bervariasi antara 2-100 cc/hari bergantung pada beratnya infestasi (Arisman, 2004).
6) Disamping penyebab medis faktor sosial ekonomi juga memainkan peranan yang penting .
karena tingkat kemiskinan dinegara berkembang menerangkan sebagian besar menjadi penyebab terjadinya anemia berat. Masalah yang sering ditimbulkan seperti gizi buruk, kekurangan air, tabu terhadap makana, produksi dan cadangan makanan, produksi dan cadangan makanan yang tidak cukup dan tidak adanya sistem jaminan sosial yang efektif secara bersamaan dapat menurunkan kesehatan dan menyebabkan terjadinya anemia ( Erica Royston, 1994).
Faktor sosial ekonomi juga memberikan dampak yang besar pula terhadap kematian ibu, sebab bila sosial ekonomi rendah dapat berakibat rendahnya kemampuan keluarga untuk meyediakan makanan yang bergizi. Kedaan ini tentu mengakibatkan gizi jelek pada anggota keluarga khususnya ibu. Ibu hamil dengan gizi jelek tentu akan membahayakan ibu dan bayi yang dikandungnya selain itu bila kemampuan ekonomi keluarga rendah akan berakibat pula terhadap tingkat pengetahuan dan kecerdasan anggota keluarga. Pengetahuan yang terbatas merupakan faktor penghambat untuk menerima suatu motivasi dalam bidang kesehatan. (Depkes RI, 1996)

Pengaruh anemia dalam kehamilan
Anemia dalam kehamilan memberi pengaruh kurang baik bagi ibu baik dalam kehamilan, persalinan maupun dalam nifas. Pelbagai penyulit dapat timbul akibat anemia seperi:
1) Abortus
2) Partus prematurus
3) Partus lama karena inertia uteri
4) Pendarahan pospartum karena antonia uteri
5) Syok
6) Infeksi baik intra partum maupun pospartum
7) Anemia yang sangat berat
Sedangkan pengaruhnya terhadap hasil konsepsi adalah:
1) Kematian mudigah
2) Kematin perinatal
3) Prematuritas
4) Dapat terjadi cacat bawaan
5) Cadangan besi kurang

Tahap terjadinya anemia zat besi ada 3 yaitu:
1) Tahap pertama: terjadi apabila simpanan besi berkurang yang terlihat dari penurunan feritin dalam plasma hingga 12 μg/l. hal ini dikonpensasikan dengan peningkatan absorpsi besi yang terlihat dari peningkatan kemampuan mengikat besi total (total iron binding capacity/TIBC) pada tahap ini belum terlihat perubahan fungsional pada tubuh.
2) Tahap kedua: terlihat dengan habisnya simpanan besi, menurunnya jenuh transferin hingga kurang dari 16% pada orang dewasa dan meningkatnya protoporfirin yaitu pendahulu (precursor) hem. Pada tahap ini nilai haemoglobin dalam darah masih berada pada 95 % nilai normal. Hal ini dapat mengganggu metabolisme energi sehingga menyebabkan menurunnya kemampuan bekerja.
3) Tahap ketiga: terjadinya anemia gizi besi dimana kadar haemoglobin total turun dibawah nilai normal. Anemia gizi besi berat ditandai oleh sel darah merah yang kecil (mikrositosis) dan nilai haemoglobin rendah (hipokromia). Oleh sebab itu anemia gizi besi dinamai anemia hipokromik mikrositik.
2.2.7 Diagnosis anemia pada kehamilan
Untuk menegakkan diagnosis anemia kehamilan dapat dilakukan dengan anamesa. Pada anamnesa akan didapatkan keluhan cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang dan keluhan mual, muntah lebih hebat pada hamil muda. Pemeriksaan dan pengawasan haemoglobin dapat dilakukan dengan menggunakan alat sahli. Hasil pemeriksaan sahli dapat digolongkan sebagai berikut: Hb 11 gr % tidak anemia
Hb 9-10 gr% anemia ringan
Hb 7-8 gr% anemia sedang
Hb kurang 7% anemia berat.(Manuaba,1998)

Pencegahan dan penanganan anemia
1) Pemberian tablet besi
Wanita hamil merupakan salah satu kelompok yang diprioritaskan dalam program suplementasi, dosis yang dianjurkan dalam satu hari adalah dua tablet (satu tablet mengandung 60 mg Fe dan 200 mg asam folat) yang dimakan selama paruh kedua kehamilan karena pada saat tersebut kebutuhan akan zat besi sangat tinggi (Daemeyer, 1995).
2) Pendididkan
Konsumsi tablet zat besi dapat menimbulkan efek samping yang mengganggu sehingga orang cenderung menolak tablet yang diberikan. Penolakan tersebut sebenarnya berpangkal dari ketidaktahuan mereka bahwa selama kehamilan mereka memerlukan tambahan zat besi. Agar mengerti para wanita hamil harus diberikan pendidikan yang tepat misalnya tentang bahaya yang mungkin terjadi akibat anemi dan harus pula diyakini bahwa salah satu penyebab anemia adalah defisiensi zat besi (Arisman, 2004).
3) Modifikasi makanan
Asupan zat besi dari makanan dapat ditingkatkan melalui dua cara, pertama pemastian konsumsi makanan yang cukup makanan yang cukup kalori sebesar yang dikonsunsi. Kedua meningkatkan ketersediaan zat besi yang dimakan yaitu dengan jalan mempromosikan makanan yang dapat memacu dan menghindarkan pangan yang bisa mereduksi penyerapan zat besi. (Arisman, 2004)
4) Pengawasan penyakit infeksi
Pengobatan yang efektif dan tepat waktu dapat mengurangi dampak gizi yang tidak diinginkan. Tindakan yang penting sekali dilakukan selama penyakit berlangsung adalah mendidik keluarga penderita tentang cara makan yang sehat selama dan sesudah sakit. Pengawasan penyakit infeksi ini memerlukan upaya kesehatan masyarakat, pencegahan seperti penyediaan air bersih, perbaikan sanitasi dan kebersihan perorangan ( Arisman, 2004).
5) Fortifikasi makanan
Merupakan salah satu cara terampuh dalam pencegahan defisiensi zat besi. Kelompok masyarakat yang dijadikan target harus (dilatih) dibiasakan mengkonsumsi makanan fortifikasi ini serta harus memiliki kemampuan untuk mendapatkannya (Arisman, 2004) . hasil olahan makanan fortifikasi yang paling lazim adalah tepung gandum roti, makanan yang terbuat dari jagung serta jagung giling dan hasil olahan susu meliputi formula bayi dan makanan sapihan (tepung bayi) (Daemeyer, 1995)

Sumber : Manuaba, Gde, Bagus Ide. 1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan, EGC, Jakarta Mochtar, Rustam. 1998. ”Sinopsis Obsterti Jilid II”, EGC Jakarta Wiknjosastro, Hanafi. 2002. ”Ilmu Kandungan”. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar