Selasa, 06 April 2010

Konsep Dasar Bencana O,keefe, Westgate, Wisner

TAKING THE NATURALNESS OUT OF THE NATURAL DISASTER

Phill O’keefe, Ken Westgate, dan Ben Wisner mengatakan bahwa bencana lebih merupakan konsekuensi sosial ekonomi daripada faktor alam.

Media terus mempublikasikan berita-berita tentang angka-angka bencana. Sejak awal tahun 1976 bencana sudah banyak terjadi di mana-mana. Sebenarnya sulit untuk mendapatkan informasi sebenarnya secara global, baik itu frekuensi dan dampak bencana-bencana tersebut. Tapi kemudian sekarang sudah dibuat data statistik global tentang bencana oleh sebuah lembaga berdasarkan informasi organisasi internasional, kantor pemerintah, institusi akademik, dan perusahaan asuransi. Keakuratan informasi membingungkan karena pihak-pihak yang mengumpulkan data ini memiliki interest masing-masing terhadap jumlah korban dan dampak kerusakan yang mereka laporkan. Organisasi internasional dan organisasi pemerintah sangat terkait dengan dana bantuan yang dikucurkan, institusi akademik memiliki interest terhadap fenomena-fenomena tidak lazim yang mungkin saja sebenarnya bukan bencana, dan pihak asuransi melaporkan angka-angka yang langsung terkait dengan bisnisnya. Selain datanya tidak bisa dipercaya, ada tendensi-tendensi tertentu pula yang terlihat. Terungkap bahwa dari tahun 1940-1970-an, bencana besar meningkat jumlahnya, dan jumlah korbannya juga meningkat. Jumlah korban paling besar ada di negara-negara belum berkembang, dan ada indikasi bahwa kerentanan (vulnerability) dari negara-negara ini meningkat.


Bencana (disaster) merupakan penanda garis persentuhan antara fenomena fisik yang ekstrim dengan populasi manusia yang rentan (vulnerable). Sangat penting untuk menyadari kedua elemen ini. Tidak ada bencana jika tidak ada manusia. Kedua elemen sangat mendasar untuk dapat menjelaskan mengapa bencana meningkat padahal tidak ada perubahan iklim dan geologi yang signifikan yang menyebabkan bencana meningkat. Ada yang menyinggung tentang perubahan iklim tetapi belum ada bukti-bukti yang kuat ke arah itu (ingat, artikel ini dibuat tahun 1976). Meskipun ada bukti-bukti perubahan jangka panjang, tetapi tidak bisa menjelaskan peningkatan bencana yang ada di data. Jika tidak ada perubahan yang mencolok pada iklim dan geologi, maka dapat diasumsikan bahwa kejadian ekstrim fisik akan konstan. Lalu secara logis ketika jumlah bencana meningkat maka penjelasannya adalah karena meningkatnya tingkat vulnerability dari orang-orang yang berhadapan dengan peristiwa alam yang ekstrim. Kita (ida dan semua pihak) harus kembali memikirkan konsep bencana “alam.”

Bencana meningkat khususnya di negara-negara belum berkembang. Sebenarnya, meningkatnya vulnerability dari masyarakat terhadap kejadian ekstrim fisik dapat dilihat sangat terkait dengan upaya pemiskinan yang terjadi di seluruh dunia. Dengan terus bertambahnya jumlah penduduk, sementara sumberdaya di kontrol oleh segelintir golongan, maka standar hidup akan menurun bagi banyak manusia di bumi ini. Masyarakat biasa ini akan semakin vulnerable berhadapan dengan variasi lingkungan jika proses ini terus berlanjut. Paul Richard mengatakan, sama dengan proses alam misalnya ketika hujan berkurang, lalu akan mempengaruhi struktur sosial, maka pembangunan ekonomi (economic development) akan mempengaruhi sistem alamiah dan akan menyebabkan kelaparan, tanah longsor, dll. Sistem dunia telah berkembang membuat jurang yang besar antara negara kaya dan negara miskin membuat masyarakat menjadi semakin vulnerable dan membuat bencana meningkat. Jadi mungkin istilah bencana alam seharusnya diganti dengan istilah bencana sosial atau bencana politik.

Malah, bencana alam bukan lagi bencana melainkan didatangkan oleh perbedaan kelas. (catatan ida: Malah mungkin penanganan bencana yang dilakukan oleh pihak tertentu merupakan bencana yang lebih besar bagi masyarakat yang terkena bencana alam). Proses yang terjadi di dunia saat ini alih-alih membuat negara tidak berkembang bergerak menjadi lebih baik, tetapi malah selangkah lebih mundur dan mendekati arah “marjinalisasi” sebagai harga yang harus dibayar oleh sistem pembangunan kebarat-baratan (west development), dalam dunia yang saling tergantung (ketergantungan pada sistem dunia membuat negara miskin makin miskin).

Data-data statistik menunjukkan bahwa negara paling miskin lah yang paling sering terkena bencana. Hal ini harusnya menjadi arahan bagi sistem mitigasi bencana yang akan datang. Bahwa upaya untuk mengurangi bencana hanya akan berkembang dan berdampak nyata jika perhatian diberikan kepada vulnerability dan memahami proses marjinalisasi yang menyebabkannya. Karena itu upaya dalam penanganan bencana tidak hanya menumpuk pada saat setelah bencana telah terjadi. Rencana-rencana aksi precaution atau sebelum bencana sampai terjadi itu jauh lebih berguna karena akan dapat menyelesaikan akar masalah dari bencana, bukan hanya menangani simptom-nya saja.

Rencana pencegahan (precaution) yang sukses jika difokuskan pada kerentanan masyarakat maka akan sangat tergantung pada tingkah-laku kultural (cultural behavior) penggunaan sumberdaya alam lokal di tingkat lokal dan regional. Dan melibatkannya ke dalam rencana dan strategi mitigasi bencana. Precautionary planning harusnya diperlakukan sebagai asuransi pada apapun rencana pembangunan. Tujuannya dapat dengan meningkatkan standar kehidupan bagi masyarakat yang terpaksa hidup di tempat yang rentan, agar dapat mempertahankan diri mereka terhadap bencana karena standar hidup mereka terlalu rendah selama ini. Yang miris adalah, bahwa bantuan setelah bencana terjadi kadang jauh lebih besar dari pendapatan negara-negara yang terkena bencana itu. Waktu sudah mendesak untuk segera memikirkan bentuk perencanaan precaution, yang menempatkan vulnerability masyarakat sebagai penyebab sesungguhnya dari bencana. Vulnerabiltity yang dipicu oleh kondisi sosial-ekonomi yang dapat dimodifikasi oleh manusia, dan bukan begitu saja turun dari langit. Precautionary planning harus dimulai dengan menggantikan konsep alamiah pada bencana alam.

Artikel ini diterjemahkan oleh Ida Ansharyani (Ph.D student Universite Paris 1 Pantheon-Sorbonne, France dengan disertasi tentang CBDRR Kelud) sebagai bahan belajar.Untuk mengurangi resiko kesalahan penerjemahan dan pemahaman, silakan mengontak idaansharyani@gmail.com jika tertarik untuk mendapatkan versi asli artikel ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar