Senin, 01 Juni 2009

BERMAIN BAGIAN DARI PENDIDIKAN

BERMAIN BAGIAN DARI PENDIDIKAN

Sumber: Serambi Ummah, Banjarmasin Post, Edisi 2 Mei 1997, Lembaran Jum’at
Oleh : Muhammad Abdullah


Disebutkan bahwa anak merupakan amanat Allah SWT yang oleh orang tuanya wajib dididik hingga menjadi anak yang shaleh. Pendidikan diartikan sebagai proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang, dalam usaha mendewaskan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.(Kamus Besar Bahasa Indonesia)

Oleh karena sikap yang baik harus dipelajari, maka pendidikan dan bimbingan sikap ini perlu dan harus. Sejak dari dalam keluarganya sudah harus diperhatikan pendidikan disekolah dan dalam pergaulan. Memang tidak mudah hal ini dilaksanakan bila pihak sipendidik, yaitu orang tua, guru, pemimpin-pemimpin masyarakatnya tidak atau belum menguasai sikap yang baik itu. Latihan penguasaan sikap baik hanya dapat diberikan melalui pengalaman, melalui tauladan, dan hanya sedikit sekali melalui teori. Kebiasaan merupakan hal yang mendasari penguasaan sikap itu sehingga sebelum sesuatu merupakan kebiasaan, perlu dipilihkan kebiasaan-kebiasaan yang baik-baik saja.


Salah satu bentuk metode pendidikan untuk perkembangan sikap menurut Muhammad Abdullah adalah bermain. Bermain adalah dunia anak untuk mengembangkan potensi mengarah kepada kebiasaan yang baik dan pada akhirnya menjadi sikap yang baik.
Sabda Rasulullah SAW, “ Setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Orang tuanyalah yang akan menjadikan ia Nasrani, Yahudi atau Majusi” Nah kewajiban orang tua ditekankan mendidik lebih baik lebih arif dan bijaksana dalam memilihkan alat bermain. Karena dalam bermain banyak hal yang akan diperoleh anak dan bisa mempengaruhi sikap dan kebiasaan anak.
Dalam bermain perlu keterlibatan orang lain dalam hal ini adalah orang tua. Nah agar potensi lebih berkembang optimal ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan orang tua, yaitu :
1. Berikan kesempatan seluasnya.
Orang tua menyediakan fasilitas untuk mendukung aktivitas kreatifnya. Tak harus dengan main edukatif yang harga selangit, bisa juga memanfaatkan barang-barang bekas di rumah.
2. Mendampingi saat bermain.
Kedekatan dan interaksi yang hangat serta komunikasi yang baik antara orang tua dan anak sangat penting dalam mengembangkan potensi kreativitasnya. Dukung dan dorong minat serta rasa ingin tahunya dan selalu awasi agar anak tidak menggunakan benda-benda yang berbahaya.
3. Jangan terlalu ikut campur
Biarkan anak mengembangkan sendiri berbagai ide dalam benaknya. Dorong ia menggunakan seluruh potensi kreativitasnya, jangan paksa anak melakukanh sesuatu, beri kebebasan untuk bereksprimen.
4. Jangan emosional
Orang tua perl;u sabar, tidak marah, emosional, jika anak tampak putus asa berilah ia motivasi. Jelaskan bahwa anak sebenarnya memiliki potensi.

Di sekolah guru bertanggung jawab sebagai pengajar dan pendidik. Sebagai pengajar guru bertugas memberi pengajaran pada murid-muridnya berdasarkan materi-materi pengajaran sesuai kurikulum. Sedangkan tanggung jawab sebagai pendidik terkait dengan tanggung jawabnya memberikan pendidikan dari segi moral dan psikologi. Dari sisi moral, guru harus memberikan contoh perilaku yang bermoral bagi anak didiknya. Sementara dari sisi psikologi guru harus memahami karakteristik murid-muridnya agar dapat memberi pengajaran sesuai karakter anak dan mendidik secara demokratis. Contoh, guru disekolah dasar harus memahami bahwa karakteristik murid-murid SD adalah masih banyak bermain dan memahami konsep melalui pengalaman langsung atau konkret. Dengan begitu penyampaian materi pelajaran idealnya dilakukan dengan cara bermain memberi contoh langsung. Saat belajar tentang tanaman maka tunjukkanlah tanamannya pada murid-murid, jangan cuma melihat di buku dan memori anak jangan dibebani dengan hapalan saja.
Pada akhirnya, disimpulkan oleh Muhammad Abdullah bahwa pelaksanaan pendidikan anak dengan metode bermain merupakan amanat besar dari Allah. Kesalahan dalam menerapkan metode merupakan pengkhianatan terhadap amanat besar itu dan mengingat besarnya tanggung jawab pendidik, maka Allah Yang Maha Suci akan memberikan imbalan yang pantas bagi mereka.

Bahan Bacaan pendukung :
1. Kesehatan Mental oleh Siti Meichati.M.A, Fakultas Psikologi UGM Yogyakrta
2. Majalah Nakita edisi 347, 26 Nopember 2005
3. Mempersiapkan Anak Saleh Telaah Pendidikan Terhadap Sunnah Rasulullah SAW Oleh Jalaludin, Jakarta PT Raja Grapindo Persada 2002.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar